Hutang 04

Cerita Sex : Hutang Episode 4 – Cerita Sex Sedarah, Cerita Sex ABG, Cerita Sex Istri, Cerita Sex Janda, Cerita Sex Lesbian, Cerita Sex Mahasiswi, Cerita Sex Masturbasi, Cerita Sex Ngentot, Cerita Sex Pelajar, Cerita Sex Perkosaan, Cerita Sex Pramugari, Cerita Sex Remaja, Cerita Sex Selingkuh, Cerita Sex Setengah Baya, Cerita Sex SPG, Cerita Sex Suster, Cerita Sex Tante, Cerita Sex WTS, Terbaru.

Cerita Sex , cewe bugil ngentot_WM
Cerita Sex Bergambar

Sambungan dari bagian 03

A Fish Called Shinta
Tiga belas hari sebelum Deadline

Aku melayang mengarungi masa. Hingga hilang semua asa. Semua pedih, semua sesal.

Jay berlari-lari menyeberangi lapangan sepak bola itu. Menuju motornya yang terparkir anggun di ujung lapangan. Rambut gondrongnya berkibar-kibar seirama dengan jaket kulit hitam yang dikenakannya. Seolah berkejaran dengan degup jantungnya yang bertalu-talu. Memaki dalam hati, pada keadaan yang membuatnya terjebak di tempat itu.

“Shit! Sial bener!”
Dengan tergesa, diraihnya setang motor, lalu memutar kunci cepat-cepat. Sedetik kemudian, dengan suara menggelegar, motor itu melompat garang. Seperti anak kucing yang terinjak ekornya. Menakjubkan. Jay masih saja memaki-maki dalam hati. Kalau bukan karena tugas dari kantor yang mengharuskannya meninggalkan Surabaya selama empat hari, ia pasti sudah merangkai salah satu roman terbaiknya bersama Shinta. Dan semua karena satu hal, Profesionalisme. Bah!

Sudah sejak dua hari yang lalu, tidur malamnya selalu tidak nyenyak. Pasti karena di lapangan itu banyak nyamuk. Dan yang paling mencintai darahnya, adalah nyamuk betina yang dinamainya, Shinta.

Mendadak, berkelebat wajah yang paling ingin dilupakannya saat itu dalam pikirannya. Wajah seorang berambut gondrong lain, yang tiba-tiba menyeringai dengan dua taring berlumuran darah segar. Darah perawan. Sigap tidak mau kalah, ia balas menyeringai. Memamerkan dua gerahamnya yang kering.
“Aku kalah..” bisik hatinya malu.

Tapi Jay masih memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Ia berharap pada keajaiban. Jay memasukkan koin terakhirnya ke kotak telpon di hadapannya. Ia sudah berlarian kesana-kemari sambil mendorong motornya yang kehabisan bensin, untuk mencoba menelpon Shinta. Dan sialnya, semua kotak telepon yang dicobanya, menelan dengan kejam koin-koin harapannya.

“Ini yang terakhir..” batinnya sedih.
Sudah dilupakannya emosi yang membuatnya nyaris merontokkan kotak terakhir, juga kekesalan pada kebodohannya yang lupa mengambil dompet dan ponsel yang dititipkannya pada seorang kru di lapangan bola di kota Malang siang tadi.
“Kling.”

Ia menatap layar di kotak itu dengan serius. Tapi tidak ada yang berubah di sana. Tiba-tiba, Jay merasa tanah yang dipijaknya berputar. Ia lalu terduduk di tepian jalan. Bersandar di sisi motor kesayangannya. Lemas. Dan merasa begitu tidak berdaya. Perlahan, ia merogoh saku jaket kulitnya, mengeluarkan sebatang kretek kegemarannya. Menimang-nimang beberapa saat, lalu menusukkannya lembut di sela bibirnya, seraya menyalakan Zippo di tangan yang lain. Mulai mengepulkan asap.

Bergumam lirih, “Aku belum kalah, Ray..”
Mata Jay menerawang ke langit biru di atas sana. Perlahan, sosok yang tadi hanya menyeringai, kini mulai terkekeh dan tersenyum riang. Jay merasa perih di dadanya. Tiba-tiba, ia begitu ingin menangis. Tapi tidak bisa. Dalam kelelahan dan rasa putus asa yang menyesak, Jay terlelap di situ. Ia pun tidak terusik, ketika gerimis mulai berjatuhan dan langit mulai gelap.

Jay menggeliatkan badan geli, ketika sesuatu yang hangat terasa menyelusup ke balik jaketnya. Sekejap, ia sudah tersadar. Hujan telah benar-benar deras, dan matahari sudah tidak ada di atas kepalanya. Sigap, dikuaknya kerah jaket kulitnya. Di dalam sana, seekor anak kucing, basah dan kedinginan, sedang meringkuk mencari kehangatan. Jay tertegun sesaat, saat mata mereka bertatapan. Detik berikutnya, ia sudah tertawa terbahak-bahak. Langit seolah terang-benderang baginya.

“Huahahaha..! Aku belum kalah, Ray! Belum..!”
“Hahahahahahaa..!” tawanya membahana menyaingi derasnya hujan yang turun.
Ia baru saja mendapat pencerahan.

Shinta melirik kembali dari balik gorden di ruang tamu asrama. Ia berharap-harap cemas. Sudah empat hari, pemuda itu tidak menghubunginya. Tidak sepatah kata pun, sejak saat terakhir mereka bersama.

“Aku mau ke Malang, Shin. Ada event di sana.””Jadi, kapan kamu balik?””Heheheh.. nggak ngerti. Ngerti juga, aku nggak mau kasih tahu. Biar surprise!” Jay meringis menggoda gadis itu.
Ia benar-benar menikmati mimik gadis di depannya. Yang sedang tersiksa antara gengsi dan rasa tidak ingin ditinggalkan. Gadis itu sebenarnya hanya tidak ingin dianggap ‘gampang’. Tapi Jay, juga sedang berjudi dengan umpannya kali ini.

“Apaan sih, kamu! Bilang gitu aja nggak mau!” Shinta memanyunkan bibirnya.
“Emang, ada yang nungguin?” goda Jay sekali lagi.
“..”
“Ya udah, aku pergi dulu.”
“Jay, telpon ya?” akhirnya hanya itu yang bisa terucap dari bibir Shinta.
Jay hanya menggelengkan kepala cepat. Senyum simpulnya masih ada di sana.
“Sorry. Be Professional, right?” tukasnya sebelum melambaikan tangan dan berlalu dengan motornya.

Dalam benaknya, Jay berkhayal, gadis itu akan berteriak memanggil namanya sambil terisak. Lalu, ia akan berbalik. Menghentikan motornya, mengembangkan pelukannya, dan menikmati tiap tetes air yang mengalir di dadanya. Membelai rambut panjang Shinta, mengucapkan kata-kata penghibur hati, dan akhirnya, mendaratkan kecupan di bibir gadis itu. Tapi itu semua memang hanya khayalannya saja. Karena gadis itu segera berlari masuk ke asrama, dan membanting daun pintu keras-keras. Marah. Jay tersenyum sendiri. Khayalan konyol, pikirnya.

Untuk ketiga kalinya, Shinta menyibakkan gorden itu. Ia mencoba melihat menembus derasnya hujan yang mengguyur kota sejak sore tadi. Entah kenapa, rasa rindunya benar-benar tidak tertahankan hari ini. Lalu, matanya menangkap bayangan itu. Seolah keluar dari kegelapan malam. Yang makin lama makin mendekati Asrama Putri. Melangkah setengah terseret, seperti tidak bertenaga. Sesosok pemuda yang memeluk gumpalan gelap sedang mendorong motor besar.

“Jay..!” jerit Shinta tertahan.
Tidak mempedulikan hujan yang masih mengguyur di luar, Shinta berlari dan terhenti di depan pagar yang sudah terkunci. Ia benar-benar tidak memikirkan apapun lagi. Bahkan untuk sekedar mengambil payung. Dengan gelisah, dipandanginya Jay yang tersenyum tipis kepadanya. Rambut gondrong pemuda itu basah kuyup oleh air. Begitu pula wajahnya yang terlihat pucat. Tubuh kurus dan belulang iganya melekat erat dari balik T-shirt berwarna putih tipis.

“Jay, kamu nggak apa-apa?” mata Shinta sudah berkaca-kaca.
“Sssh.. udah. Aku nggak pa-pa.” Jay mengucapkannya dengan bibir bergetar karena dingin yang menusuk.
Shinta yang menyadarinya, merasa dadanya bagai diiris. Jay mengangsurkan gumpalan dalam pelukan lengan kirinya, yang ternyata jaket kulit hitam miliknya.
“Ini, tolong kamu rawat. Kasihan..”

Shinta menerima jaket itu dengan perasaan heran, dan sedikit terkejut, ketika disambut dengan tatapan mata yang polos dan suara mengeong. Kucing?
“Aku nemuin tadi di jalan, kehujanan,” sambung Jay lambat-lambat, “Mau kan?”
Shinta mengangguk. Air matanya sudah berderai tidak tertahan, meski tanpa suara.
“Jay..” Shinta tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Jemari Jay yang dingin sudah menggenggam erat jarinya.

“Aku, cuman mau bilang.. aku sayang kamu..”
Ada suatu kehangatan di bola mata Jay saat mengucapkannya. Shinta tidak memperdulikan semua teriakan dari ego dan harga diri di kepalanya yang selalu menghantuinya selama ini. Ia memeluk tubuh pemuda di depannya dengan satu tangan. Merengkuh erat. Dari sela-sela pagar.

***

PREPARING FOR THE BEST PART

Dua puluh hari waktu ditetapkan, berburu ikan
Ikan dapat, disayang, mau dibunuh dan dimakan
Lalu ikan dibuang..

Some faces of Ray
Enam hari sebelum Deadline

Beberapa menit ia membiarkan keheningan menemaninya. Saat-saat seperti itu, adalah saat-saat yang paling dinikmati oleh Ray. Ketika di mana pikirannya dapat berjalan lebih lancar. Ia termenung menatap rintik yang masih belum juga reda di luar rumah. Terkadang, pemikiran tentang adanya suatu kata ‘dosa’ dapat membuatnya terpekur seperti itu. Tapi seperti kebiasaan yang sudah melaju dalam darahnya. Tiada kata menyesal! Senyum itu muncul saat ia mematikan puntung rokok di jemarinya.

“Gadis, kasihan sekali,” bisiknya, lalu bangkit berdiri.
Wanita memang bagaikan roman picisan. Tidak ada yang menarik selain sentuhan, kehangatan dan kelembutan bibir. Selain itu, semua bisa didapat di mana-mana. Bahkan di emper toko sekalipun. Untuk semua itu, Ray menganggap tidak lebih dari sekedar rendesvouz dalam detik-detik yang ia jalani. Intermezzo. Sesuatu yang melintas di jalan sepi, untuk kemudian menghilang-muncul lagi dalam sosok yang berbeda.

Sekarang, ia akan mengakhirinya. Kejam? Ataukah baik-baik? Semua itu tergantung pada dirinya sekarang. Beberapa orang suka membahas tentang ‘cara bermain layang-layang’. Cara yang digunakan orang-orang untuk mempertahankan sesuatu yang menyenangkan, yang dipastikan akan tetap ada saat diperlukan. Bukannya Ray tidak memikirkan tentang hal itu. Tapi menurutnya, biarlah kali ini lepas semuanya, tersapu bersih. Ia tidak ingin diganggu nanti. Tidak oleh Dewi.

Menabur benih cinta, sebuah perkara yang mudah. Menyemainya, jauh lebih mudah. Pria terjahat di dunia itu sudah siap kini. Menghancurkan impian, itu misinya. Satu seduhan di cangkir kopi Jawa Timur, Ray meraih kunci mobil. Pikirannya hanya satu, yaitu tentang kebekuan yang sudah dipeliharanya lama lalu. Yang harus keluar sekarang. Sudah tiba masanya.

Sekali lagi berkelebat pertanyaan: Kejam? Ataukah baik-baik? Ebes menggeleng-gelengkan kepala saat melihat pemuda itu berlalu tanpa kata. Belum membayar pula. Tapi dalam hati Ebes, ia sudah mengerti saat-saat itu. Ketika di mana Ray terlihat serius. Tidak ingin dan tidak dapat diganggu.

Menelusuri jalanan, Ray memikirkan banyak hal. Sebetulnya Dewi bukanlah seorang gadis yang tidak masuk dalam hitungannya. Gadis memek Yoona, itu cantik, baik, dan punya segudang kelebihan dibanding gadis-gadisnya yang lalu. Tapi seperti kata orang-orang, jika ingin mengerjakan sesuatu, jangan campurkan dengan kesenangan.

Di sebuah tikungan, Ray berhenti. Menekan beberapa tombol di handphone. Sebuah sapaan bernada girang terdengar dari seberang.
“Halo, Ray.”
“Hai,” sahut Ray.
“Ada apa? Katanya kamu banyak kerjaan hari ini?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memelukmu. Itu saja.”
“Lewat telepon?”
“Seandainya bisa.”
Suara tawa terdengar dari seberang. Lama setelahnya, hening.

“Ya kamu ke sini saja.”
Ray tersenyum. “Tidak terlalu malam untukmu? Nanti kalau ketahuan..”
“Tidak. Ke sini saja, aku akan menemuimu di luar.”

Dalam perjalanan menuju Asrama Puteri, Ray merasa sedikit bingung. Ia memang terkadang terlalu impulsif dalam mengambil keputusan. Seperti yang baru saja ia lakukan. Untuk apa ia malam-malam datang ke Asrama Puteri? Hanya untuk menemui Dewi? Omong kosong, pikirnya. Lalu? Lalu aku hanya akan membuktikan bahwa ia bukan apa-apa, ucap Ray, masih dalam hati. Dengan tersenyum penuh percaya diri, Ray membiarkan konsentrasinya kembali ke jalan raya.

Dewi sudah menunggunya di depan pagar, saat ia tiba.
Ray menurunkan jendela mobil, lalu tersenyum dan berkata, “Aku tidak ingin tahu caramu keluar.”
Gadis itu tertawa. Ray mengeluh dalam hati, gadis itu cantik sekali. Satu lambaian tangan kemudian, Dewi sudah membuka pintu mobil dan masuk. Ray tertawa kecil saat melihat gadis itu hanya duduk diam. Pandangan gadis itu seoah mengatakan bahwa ia menunggu pelukanku. Tanpa berkata apa-apa, Ray memiringkan tubuhnya dan memeluk gadis di sebelahnya. Satu kecupan mesra di bibir, lalu Ray merebahkan kepalanya di pangkuan si gadis. Dewi membelai rambut pemuda itu dengan lembut.

“Ada apa kamu? Kok jadi melankolis begini?”
“Tidak apa-apa,” bisik si pemuda, “Aku hanya ingin dipeluk.”
“Manja.”
“Memang, inilah aku.”
Dewi tertawa kecil, sebelum membungkuk dan mengecup daun telinga Ray.
“Aku sudah menduganya. Bermanjalah, kapanpun kamu mau.”
Ray tersenyum, lalu menutup matanya.

Bersambung ke bagian 05

This entry was posted in Cerita Sex Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.