Hutang 01

Cerita Sex : Hutang – Episode 1

Toket Gede Mulus_WM
CerSexMek

PROLOG:
Surabaya 1999
Deadline Day

Warung Senang. Hanya menyediakan minuman panas, gorengan murahan, dan indomie tanpa telor. Pemiliknya adalah pasangan suami isteri dari Lamongan. Orang-orang memanggil mereka ‘Ebes’ dan ‘Memes’. Pasangan yang selalu tersenyum menghadapi setiap pelanggan, tidak perduli mereka dapat membayar uang sekolah tujuh anak mereka atau tidak.

Tapi bukan tentang mereka yang menjadi bahan obrolan hangat malam itu. Tapi tentang kedua pemuda yang duduk di sudut bangku panjang, dekat tong sampah, posisi kegemaran mereka. Orang yang baru saja mengunjungi Warung Senang dan melihat mereka sambil lalu, pasti mengira kalau mereka berdua adalah sepasang saudara kembar. Tapi bagi para pelanggan Warung Senang, Ray dan Jay sama sekali tidak ada mirip-miripnya, kecuali rambut gondrong ikal yang selalu mereka bawa kemana-mana.

Dan malam itu, mereka punya topik hangat untuk diceritakan pada Ebes dan Memes.
“Tapi tahunya gratis,” kilah Ray saat Ebes menyuruhnya bercerita.
“Saya kopi saja, plus Dji Sam Soe satu,” Jay menimpali.
Ebes memandang Memes, lalu nyaris berbarengan mereka mengumpat.
“Anak-anak bandel! Makan sepuasnya deh, pokoknya cerita.”

Ah? Sebegitu penasarankah mereka? Tentu saja. Ray dan Jay, dua makhluk gondrong itu, paling pandai bercerita. Kalau mereka sudah bercerita, yang pasti pengunjung Warung Senang akan bertambah, bisa-bisa sampai pagi tetap ramai.

Ray mengambil tiga potong tahu, mengambil sikap hendak bercerita. Dua orang abang becak dan satu tukang ojek masuk dan mengambil tempat.

WHERE IT BEGUN

Dua puluh hari sebelum Deadline

“Hahahaha,” gadis itu tertawa.
Pemuda dengan rambut ditarik ke belakang, yang duduk di sebelahnya cepat-cepat berkata, “Ssshh jangan keras-keras. Nanti dikira ada perkosaan di sini.”
Dewi meruncingkan bibir, “Huu, memangnya siapa mau diperkosa sama kamu.”
“Loh,” kata si gondrong, “Memangnya aku bilang kalau aku yang merkosa?”
Si gadis tertawa lagi.

Pemuda yang baru dikenalnya dua jam lalu itu benar-benar membuat perutnya sakit. Pandangan yang semula buruk (melihat potongan jalanan si pemuda) lenyap sudah. Yang ada kini hanya perasaan suka yang entah dari mana datangnya.

“Jadi, Ray, kamu masih kuliah?”
Si gondrong, Ray, dengan sikap digagahkan mengangguk.
“Tentu saja. Walaupun tampak brutal begini, sebetulnya di dalam seorang pemuda yang baik. Rajin. Alim. Pokoknya nggak ada negatif-negatifnya.”
“Hiih, bohong. Dari matamu aja aku bisa tahu kalau kamu tuh pemalas.”
“Wah, enggak lah,” sahut Ray, “Kalau dari mataku sih, satu-satunya yang bisa kamu katakan adalah bahwa kamu melihat aku suka kamu.”
Wajah si gadis memerah seketika.

Pemuda ini terkadang begitu kurang ajar. Namun entah mengapa kekurangajaran itu tidak membuatnya risih atau sebal. Dewi akhirnya berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.

“Jangan begitu,” katanya, lebih pada dirinya sendiri.
“Kenapa tidak?” tanya Ray dengan senyum tersungging.
“Iya, cowok seperti kamu pasti sudah sering mengatakan begitu pada cewek-cewek.”
“Wah, aku ada tampang playboy?” kata Ray dengan melongo.
“Bukan, tampang tukang becak.”
“Kalau begitu tukang becak playboy. Yah, pasti deh kamu nggak mau denganku. Ya sudah kalau begitu, kita berteman saja. Begitu maumu?”

Dewi bingung seketika. Tidak tahu harus menjawab apa. Pemuda ini sejak tadi selalu sukses membalikkan pertanyaannya dengan pertanyaan serupa yang lebih berkesan menuduh. Sesuatu yang tidak dapat dijawabnya tanpa berpikir keras.
“Gimana, ya,” akhirnya Dewi berkata, “Nanti ada yang marah loh sama kamu.”
Ray nyengir seketika, kebiasaan yang muncul saat umpan yang dipasangnya disambar ikan-ikan gemuk.

Pemuda itu menggelengkan kepala, “Masa kamu mau marah pada dirimu sendiri?”
Wajah Dewi memerah lagi. Untuk yang kesekian kalinya pertanyaan itu berbalik. Ray tertawa saat melihat gadis itu kebingungan.
Katanya, “Kalau tidak menjawab berarti kamu mau dong jadi pacarku.”
Dewi menatap pemuda itu dengan rasa heran campur takjub. Baru dua jam yang lalu, mereka berkenalan, sekarang pemuda itu sudah menanyakan sesuatu yang nyaris tidak sanggup ia menolaknya.

Di tempat yang lain, setengah jam lalu..
“Kamu kok diam?” tanya seorang gadis berpakaian ‘you can see’, dengan sisa riasan yang masih melekat di kulit wajahnya.
Sebetulnya pertanyaan itu ia keluarkan, karena tidak tahan dipandangi terlalu lama. Pemuda gondrong berjaket kulit di depannya hanya tersenyum, lalu membuang puntung rokoknya. Tanpa mengatakan apapun, pemuda itu meraih gelas kopi di depannya. Si gadis tambah penasaran dengan sikap si pemuda.

Belum ada dua jam mereka bertemu dan berkenalan. Sebetulnya ia sudah memperhatikan pemuda itu sejak acara dimulai. Pemuda itu berkeliaran ke sana kemari dengan binder map di tangannya. Suaranya keras dan tegas. Dalam sibuknya, senyum tidak pernah hilang saat orang-orang menyapanya, seolah ia ingin menunjukkan bahwa kesibukan tidak mempengaruhinya sama sekali.

“Fi, itu siapa sih?” tanya Shinta sebelum giliran mereka tiba.
“Oh, itu Jay. Awas, orangnya dingin.”
“Dingin?” tanya Shinta sedikit tidak percaya.
Pikirnya, orang dengan senyum yang murah itu jelas-jelas bukan tipe orang yang ‘dingin’.

“Iya, terutama sama cewek-cewek.”
“Masa?”
“Iya, dan melihat caranya memandangmu, mungkin ia tertarik padamu.”
“Mana?” Shinta menoleh dan melihat pemuda gondrong itu memang sedang menatapnya dari jauh.

Pemuda itu lalu menarik senyumnya. Shinta merasa sebuah getaran merasuki dirinya, membuat wajahnya terasa panas. Mata pemuda itu, pikirnya, sesuatu keluar dari sana. Lepas session terakhir Shinta di atas panggung, pemuda itu mendekatinya, menjabat tangannya, lalu kembali dalam kesibukkannya. Rasa ingin tahu, ditambah dengan kelelahan, membuat Shinta mengangguk saat pemuda itu mengajaknya ke Texas setelah acara usai.

Sekarang, ia sedikit gemas melihat pemuda itu hanya diam saja. Duduk manis, memperhatikannya lekat-lekat, seolah ada nasi di wajahnya. Tanpa sadar, Shinta meraba tepian bibirnya. Jelas saja, tidak ada apa-apa di situ.

“Kamu tahu,” mendadak Jay berkata, membuat si gadis terkejut. “Apa yang paling menyenangkan di sini?”
“Apa?” tanya Shinta.
“Ya tadi itu, memperhatikan kamu. Tapi sayang, kok kamu jadi risih.”
Shinta merasa geli bercampur senang yang aneh. Jelas pemuda itu sedang merayunya. Tapi caranya itu, berbeda dengan cara-cara lelaki kebanyakan.

Sekarang ia melihat pemuda itu lagi-lagi memperhatikannya. Ada sebuah senyum di wajah pemuda itu.
“Kenapa memang denganku?” tanya Shinta gemas, “Aku aneh ya?”
“Iya,” kata Jay nyengir, “Mukamu jelek.”
“Masa?” Shinta otomatis merogoh tas kecilnya, mencari kaca rias.

Untuk perempuan, penampilan adalah segalanya. Kecuali yang sadar dirinya jelek. Jay tertawa. Shinta mengangkat kepalanya dengan heran. Sejak dari tadi, baru kali itu ia mendengar pemuda itu tertawa. Tawanya benar-benar lucu, mirip tawa anak kecil.

“Tapi kalau dilihat-lihat,” ucap Jay sambil memiringkan kepala dan menarik ujung-ujung bibirnya, suatu sikap yang menurutnya dapat membuat para gadis berhasrat mencubit pipinya, “Kamu lebih bagus jelek begini.”
“Eh, kok bisa begitu?” tanya Shinta keheranan.
“Iya,” senyum Jay, menarik kepalanya lurus kembali.
“Aku suka orang jelek,” lanjutnya.
Lagi-lagi Shinta tersipu.

Gadis itu menarik keluar tangannya dari dalam tas. Ada kelegaan yang tiba-tiba muncul.
“Kamu itu aneh,” senyum Shinta seraya menopang dagunya dengan sebelah tangan di atas meja.
Jay nyengir, “Kenapa aneh?”
“Kata temanku tadi, kamu tuh orangnya dingin sama cewek.”
“Menurut kamu bagaimana?”
“Kurasa nggak. Kamu tuh baik, walau sedikit mirip rampok.”
Jay terkekeh. Tapi wajahnya langsung berubah serius.

“Sebetulnya aku nih memang dingin.”
“Sebetulnya?”
“Kecuali pada calon pacarku.”
“Hhh..?” Shinta bingung, tidak tahu harus berkata apa lagi.
Mata pemuda gondrong itu menatapnya. Ia serius, pikir Shinta dalam hati. Oh God! Matanya membuatku tidak dapat menolak, jerit Shinta. Jantungnya berdegup kencang.

***

Warung Senang
Dua puluh dua hari sebelum Deadline

Ebes masih terlihat asyik dengan racikan kopi Jawa Timurnya. Aduk sana-sini, tambahkan gula, jahe, dan bumbu lainnya. Emes masih saja menggoreng pisang raja yang seukuran lengan orang dewasa. Lummayan, sekali telan, kalian pasti tidak ingin melihat barang yang bernama pisang goreng lagi. Kecuali gratis.

Masih sekitar pulul tujuh malam, belum banyak ‘penduduk’ warung yang hadir. Si Gondrong itu terlihat kesepian. Ia sedang butuh ditemani, oleh siapa saja. Asal bukan Ebes.
“Kita kan sama lelaki..” batin si Gondrong sedih.
Matanya melirik kesana kemari, berharap seorang berparas manis berambut sebahu akan lewat dan menyapanya ramah. Dunia memang penuh kejutan.

“Hai, Jay.. sendirian aja nih?”
“Iyah, kesepian nih.. temenin dong..?” balasnya senang.
“Boleh. Traktir yaa?”
“Okey..!”
Hanya sedetik, Jay menghitung harga segelas es teh manis dan dua potong pisang goreng di Warung Senang. Hanya seribu perak. Enteng!

Jay menggeser pantat, menyilakan makhluk manis itu duduk. Ia menatap si Manis yang tersenyum nakal, menggoda. Matanya yang butek, bibirnya yang kehitaman. Hitam? Lalu dengan satu gerakan tangkas, sebatang Marlboro sudah terjepit di ujung mulutnya. Jay terkesiap. Marlboro?! Ia mengusap kedua matanya yang tidak gatal. Seringai dari makhluk itu muncul.

“Tidaakk..!” Jay menjerit histeris.
Ebes dan Emes ikut terhenyak. Kaget.
“Elo kenapa, Jay?” Makhluk itu keheranan.
“Euhh, ga pa-pa, Ray. Lagi ERROR.”
Si Makhluk memang Ray. Dan sama sekali tidak ada manis-manisnya! Pipi Jay bersemu merah. Ia memalingkan wajah cepat-cepat. Rupanya, ia terlena dalam lamunan.

Ray tersenyum manja. “Inget siapa, Bro?” godanya pada sahabatnya yang kini menatap hamparan pisang goreng dengan mimik serius.
“Inget sama pisang nih. Enak kayanya,” tukas Jay mengalihkan topik sambil mencomot dua buah pisang sekaligus.
Malu, Cing!

“Gimana kabar ikan-ikan di empang?”
“Baek. Udah kelaparan kayanya.”
“Udah satu hari, lho,” sahut Ray antusias.
“Yup. Elo gimana? Ada kemajuan?”
“Heheheh..” Ray terkekeh senang.
Dicomotnya sepotong tahu isi dari meja.

Terlambat Emes mengingatkan Ray, kalau tahu itu baru saja keluar dari penggorengan. Uap langsung mengepul dari sela-sela gigi pemuda itu.
“Wadaaoow..!” Ray sigap meraih segelas es teh manis, dan mendorong tahu itu cepat-cepat ke ususnya. Glekk!

Emes dan Ebes saling memandang bahagia. Semula mereka berpikir, Ray akan memuntahkannya ke jalanan depan warung. Di situ, ada aturan, bahwa semua yang ditelan harus dibayar. Kalau dimuntahkan? Itu artinya gratis. Dan laba berkurang dua ratus perak. Bisa-bisa, si Otong, anak bungsu mereka, gigit jari seharian besok di sekolahnya. Tidak dapat uang jajan.

“Si Dewi, elo udah tahu alamatnya, Ray?”
“He-eh. Asrama Putri di ujung sana.” tunjuk Ray ke belakang warung.
“Hah? Masa sih?”
“Iyah. Bareng sama si Shinta kan?” Ray melirik penuh arti.
“Heheheh..”
“Hahaha..!”
Mereka bertukar pandang. Lalu memngangguk berbarengan. Ternyata, mereka memancing di empang yang sama. Dua ikan, satu empang. Dua orang pemancing. Il Perfecto!

“Si Shinta, idola di Kampus Merah, naek Starlet biru, dan pinter ngerayu laki-laki..,” Jay bercerita penuh semangat sambil sesekali mengepulkan asap kreteknya.
Ray tekun mendengarkan, sementara kedua tangannya tetap sibuk menjejalkan tahu yang agak dingin dan cabe rawit kegemarannya di antara gerahamnya yang bolong-bolong. Tidak diperdulikannya Emes yang sejak tadi sigap menghitung dan menambahkan angka-angka di rekeningnya.
“Dua puluh ribu lima ratus lima puluh..”

Emes menggeleng-gelengkan kepala, lalu melirik Ray yang masih sibuk ‘menggiling’, dengan alis berkerut.
Didengarnya, Ebes berbisik lirih di samping kepalanya, “Sudahlah, nanti juga dibayar..”
Emes menghela napas, lalu kembali sibuk dengan penggorengan di belakang warung.
Pisangnya belum mateng, Mes!

“Gue suka rambut panjangnya, ama tungkainya yang jenjang..”
“Mmm, seksi abiiss.. memek Sunny” Jay berdesis. Kepedasan. Cabe Emes, dilawan!
“Emang, itu aja yang menarik dari dia?” Ray kini menyalakan sebatang Marlboro.
Memang, untuk perokok seperti mereka, sigaret adalah sahabat untuk makanan pedas. Kalian juga begitu kan?
“Jelas nggak,” Jay meringis bandel, “Gue tertarik soal idola kampus itu.”
“Heh? Serius? Idola?” Ray tertegun. Ia mengerutkan kening, heran.

“Yup. Si Dewi kan juga idola kampus Hijau. Hehehe..” Jay terkekeh senang.
“Hah? Elo juga tahu itu?” Ray tertegun lagi, “Elo bener-bener..!”
“Hehehe.., gue kan udah persiapan!” Jay mengedipkan sebelah mata.
Ray menegakkan tubuh, mencoba bersikap serius.
Oke, Jay. Let’s start the game!
Jay mengangguk.

Negosiasi pun berlangsung.
“Dua puluh satu hari.”
“Okey.”
“You don’t know me.”
“Beres.”
“Di luar asrama. Take out.”
“Take out!”

Dua orang pemancing lalu bersalaman dan menunduk dalam-dalam. Mereka lalu bersenandung pelan, sambil mengangguk-anggukkan kepala khidmat. Ritual telah dimulai.

“At first I was afraid, I was petrified..”
“..I have all my life to live, all my love to give..”
“..I will survive..”
(itu bukan nyanyian, itu mantera..)

***

Ada dua macam metode ‘primitif’ untuk berburu ikan! Satu, dengan menggunakan tombak, menusuk dengan tepat. Kedua, dengan menggunakan pancing dan umpan yang tepat.

***

Bersambung ke bagian 02

This entry was posted in Cerita Sex Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.