Jeanny 02

Cerita Sex : Jeanny Part2

Sambungan dri bagian 01

Astaga, tadi dia membawaku tanpa kesepakatan, sekarang tujuannya pun aku belum boleh tahu. Jeanny begitu percaya diri bahwa orang akan menurutinya. Rada kurang “sopan” sebenarnya untuk seseorang yang baru dikenalnya. Tapi aku tak memperdulikannya. Apalagi duduknya juga “kurang sopan”. Dengan menyandarkan tubuh sepenuhnya ke sandaran, hampir seluruh pahanya terbuka. Dan, entah disengaja atau tidak, kancing blousnya yang paling atas terbuka. Tentu saja belahan dan sebagian bukit kembarnya juga terbuka. Aku langsung mengkhayal yang “engga-engga”. Mungkin Aku dibawanya ke suatu tempat yang memungkinkanku menyalurkan segala yang tertahan sejak beberapa hari lalu.

memek terbaru 2015_WM
Cerita Sex

Taksi terus melaju menyusuri jalan-jalan besar dan kecil, menembus kemacetan. Aku belum hafal jalan-jalan di business district ini, sehingga ketika taksi berhenti di pinggir jalan agak kecil dan tak begitu ramai, aku gagal mengidentifikasi daerah mana ini. Yang jelas, kami berdua memasuki pintu diskotik NN. Lamunan nakalku buyar. Jeanny lebih sigap menyodorkan uang di ticket box.
“Ini ideku, jadi Aku yang bayar. Nanti kamu bayar makan malam aja,” jelasnya.
“Okay, what ever you say laa,” kataku meniru dialeknya.
Jeanny ketawa lebar. Gembira benar dia sore ini.

Walaupun masih sore, diskotik itu lumayan banyak pengunjungnya. Kebanyakan orang kantoran. Musik hingar bingar mengiringi beberapa pasangan yang turun di tengah ruangan. Jeanny memilih meja agak di tengah dengan lampu yang lumayan terang, dekat lantai dansa. Pilihanku sebenarnya di meja pinggir yang cahayanya temaram. Apa boleh buat, Jeanny telah menyeretku ke meja tengah yang terang itu lalu pesan minuman.

Jeanny membuka blazernya dan digantung di sandaran kursi. Gila! Blazer tak berlengan itu mencuatkan pinggiran buah yang langsat padat. Leher blouse tipis yang rendah dan kancing yang dilepas satu menyuguhkan “cetakan” buah kembar yang bulat.

“Ayo turun..,” ajaknya.
Aku menurut saja. Musik yang terdengar bertempo cepat, Jeanny langsung larut dengan iramanya. Aku mulai menggoyang tubuh mengikuti irama musik, gaya “standar”, tapi.. Jeanny, lagi-lagi aku harus menyebut gila. Tak ada bagian tubuhnya yang tak bergoyang. Kedua susunya berguncang ke mana-mana, pinggulnya berputar hebat. Pahanya yang makin terbuka berloncatan bergantian.

Gaya menari yang gila, bentuk tubuh yang serba menonjol, dan pakaian yang minim atas bawah membuat Jeanny segera saja jadi pusat perhatian pengunjung. Suitan nakal dan tepuk tangan sering terdengar dari pengunjung. Bahkan cowok-cowok yang sedang asyik menari pun “melupakan” pasangannya untuk menatapi goyangan tubuh Jeanny. Aku yakin Jeanny sadar bahwa dia menjadi pusat perhatian. Dia malah meningkatkan gaya tariannya dengan menggoyang-goyang susunya. Nampaknya dia amat menikmati kondisi ini. Keringat yang mulai membasahi tubuhnya makin membuatnya “bersinar”.

Sekitar 2-3 lagu disko panjang telah terlewati, badanku mulai pegal-pegal sebenarnya, padahal hanya goyangan biasa.
“Kita istirahat dulu,” teriakku mecoba meningkahi bunyi musik.
“What?” teriak Jeanny.
Kuulangi teriakanku, lebih keras.
“Okay, okay,” kami menuju ke meja.
Tepuk tangan panjang pengunjung menggema.

Jeanny minum birnya sambil terengah. Tubuhnya basah. Blouse tipis yang basah itu menempel ke tubuhnya makin mempertegas “cetakan” bulatan kembar dadanya yang turun-naik. Pemandangan indah yang membuatku tegang di bawah dan tambah ngos-ngosan.

“Gimana tarianku,” tanyanya.
“Gila!” Jeanny ngakak.
“Tapi orang-orang pada senang.”
“Benar. Dan kamu menikmatinya.”
“Memang,” ngakak lagi dia.
Hanya beberapa saat duduk ketika irama musik berubah lembut, Jeanny menarik tanganku lagi. Inilah yang kutunggu. Kami bergabung di antara pasangan-pasangan yang berpelukan bergoyang pelan.

Kedua tangan Jeanny menggantung di leherku. Pinggangnya kuraih lebih mendekat, lalu menempel erat. Tak perduli penisku yang menegang ini menempel ketat di perut bawahnya. Aku yakin dia dapat merasakannya. Bulatan padat yang menekan dadaku menambah keteganganku. Tiba-tiba Jeanny mempererat tekanan pinggulnya di selangkanganku dan.. dengan nakalnya dia memutar pinggul. Letak penisku yang tegang ke atas serasa digilas-gilas. Ampun, dia malah ketawa, matanya menatapku. Aku mengambil aksi, kucium bibirnya dan kulumat. Jeanny membalas lumatanku. Kami “bersilat lidah” beberapa saat, sampai akhirnya aku malu sendiri karena tingkah kami dipelototi pedansa lain. Aku melepas.

“Kenapa?” tanyanya.
“Engga enak ah, dilihatin orang.”
“Gak apa-apa, acuh aja.”
Kami berlumatan lagi sampai dia melepas karena kehabisan nafas. Aku makin tinggi.
“Kamu terrangsang ya?”
Lagi-lagi pinggulnya “menguyek” penisku. Aku meremas pantatnya. Kali ini dia memakai celana dalam.

“Sorry ya, membuatmu begini,” katanya kemudian.
“Tak apa, aku senang kok. Tapi kamu harus bertanggung jawab.” aku nekat, mulai menyerang.
“What do you mean..?” tanyanya tak serius, sambil senyum sih.
“Aku ingin ada kelanjutannya.”
“Ha.. ha.. ha..”
Sialan, hanya ketawa dia.
“Aku serius, menginginkanmu.”
“Lihat-lihat keadaan dulu ya.”
“Apa maksudmu?”
Lagi-lagi dia hanya ketawa.

Benar-benar tak ada capeknya dia. Ketika musik berganti keras lagi, Jeanny langsung menghambur ke tengah meninggalkanku sendirian di meja, menggoyang tubuh seksinya dengan lebih sensual. Lagi-lagi dia menjadi tontonan orang, dan tampaknya dia menikmati sorotan puluhan mata ke tubuhnya.

******

Kami meninggalkan diskotik jam 9, masih sore sebenarnya untuk ukuran hiburan malam. Tapi aku masih banyak acara (yang kurencanakan) bersama Jeanny. Aku mengharapkan selesai makan malam nanti aku dapat menyalurkan “kebutuhan dasar”-ku yang telah seminggu tertahan, dengan menyetubuhi tubuh seksi Jeanny. Dia tadi, setidaknya menurut penilaianku, telah memberikan sinyal lampu hijau.

Taksi yang kami tumpangi berhenti di pinggir Orhcard Road.
“Makan di mana kita?”
“Umm, kamu benar-benar udah lapar?”
“Belum begitu lapar.”
Rangsangannya di diskotik tadi menghilangkan nafsu makanku.
“O’Kay, kalau begitu, Aku masih ada yang harus kuselesaikan di kantor. Aku duluan, nanti susul Aku 5 menit kemudian,” katanya sambil memberikan sesuatu ke tanganku.
Sebuah kunci kamar, di gantungannya tertulis nomor kamar dan logo hotel tempat kerjanya. Aku bersorak!
“Okay, terima kasih.”

Mungkin inilah gerak jarum jam yang paling lambat di dunia. Bagiku lima menit serasa 5 jam. Dengan menenangkan diri aku masuk pintu utama hotel itu. Aroma makanan dari restoran fast food di lantai satu tak sanggup menggodaku untuk makan, padahal perutku belum terisi makanan sejak 7 jam lalu. Aku langsung menuju lift.

Kamar yang tak begitu luas, tapi bersih. Seperti kamar hotel standar lainnya, ada 2 tempat tidur single, meja kerja, dan satu set sofa kecil. Jendela kaca lebar ke arah taman di depan hotel. Korden dan viltrage-nya terikat rapih di kedua pinggiran jendela. Di kejauhan tampak gedung-gedung tinggi yang bersiram cahaya lampu. Di kamar mandi tak ada bath tube, hanya douce yang dilengkapi pemanas air. Semuanya bersih dan rapih. Yang membedakan dari kamar hotel lainnya adalah, di meja rias ada seperangkat alat make-up wanita dan ada satu set mini compo music equipment.

Sekarang aku mau ngapain? Lagi-lagi menunggu. Tegang. Dering telepon mengagetkanku.
“Oh, kamu udah sampai. Sorry ya membuatmu menunggu. Bentar lagi kerjaanku selesai.”
“Aku tunggu. Jangan lama-lama ya!”
“Lapar ya?”
“Iya. Tapi bukan lapar secara fisik.”
“Ha.. ha.. ha.. pesan makanan aja.”
“Engga mau.”
“Okay deh, bye.”
Telepon ditutup.

Tadinya aku hanya bermaksud cuci muka saja, tapi air hangat dari pemanas air begitu nyaman. Aku mencopoti pakaianku. Singletku basah keringat.
“Sabar ya,” kataku kepada penisku yang masih menyisakan ketegangan.
Celana dalamku juga basah, plus noda-noda “cairan pendahuluan”. Di tengah aku mandi, kudengar pintu terbuka, lalu tertutup lagi, dan suara langkah kaki. Mungkin Jeanny yang masuk. Aku cepat-cepat menyelesaikan mandiku dan dengan hanya berbalut handuk di pinggang aku keluar. Benar, Jeanny tampil segar, bersih dari keringat. Masih mengenakan blazer yang tadi, dan terkancing rapi.

“Hai, sorry ya kelamaan.” aku tak menjawab, langsung memeluknya erat.
Jeanny membalas pelukanku, tapi hanya sebentar terus melepaskan diri. Kurasakan ada yang berbeda tadi. Gumpalan daging kembarnya langsung menekan dada telanjangku. Jeanny tak memakai bra.
“Sebentar ya,” katanya sambil menghidupkan mini compo.
Terdengar musik keras, musik disco dari CD (bukan celdam, lho). jilbab bugil, Lalu tubuhnya mulai bergoyang. Huh, tak puasnya dia menari-nari. Aku hanya berdiri diam menontoninya. Tonjolan penisku menekan handuk, seperti anak yang baru disunat memakai sarung dengan ganjalan.

Jeanny terus bergoyang mengikuti irama musik. Matanya menatapku, bibirnya tersungging senyum. Lalu sebelah tangannya ke dada melepas kancing blazernya yang paling atas. Baru kusadari dia tak mengenakan blouse lagi. Belahan dadanya segera nampak. Masih sambil menari, tangannya mencopot kancing kedua. Pinggir kiri kanan bulatan dadanya terbuka. Okay, kunikmati dia memperagakan tarian strip tease sambil tegang. Gumpalan daging yang berguncang-guncang itu benar-benar bulat. Lalu kancing ketiga yang merupakan kancing terakhir. Puting dadanya sebentar nongol sebentar ngumpet. Dan.. blazer itu benar-benar terlepas.

Tiba-tiba dilemparnya blazer itu ke arahku. Aku tak sempat menangkap, blazer itu jatuh ke lantai. Kini tubuh Jeanny dari pinggang ke atas telanjang. Padahal jendela kaca terbuka lebar dan lampu kamar menyala terang. Buah dadanya benar-benar menggiurkan. Aku tak tahan lagi, membuang handuk lalu menubruknya. Jeanny tak berhenti menari. Berkali-kali mulutku tergelincir dalam usaha menangkap bulatan daging susunya. Di luar dugaanku, Jeanny menolak tubuhku.

“Tetap di tempatmu, ya. Nonton aja..!”
“Engga!” protesku.
“Nanti tiba giliranmu, OK..?” Sekilas dia melirik senjataku, senyum.
Baiklah, lagi-lagi aku menurut, walaupun dengan rasa heran. Putingnya sudah menegang, tanda dia juga telah terangsang, tapi menolakku. Dengan telanjang bulat aku menonton pertunjukannya. Masih tetap menari, kedua tangannya ke belakang, sepertinya sedang melepas rits roknya. Wow! Posisi tubuh yang begini mengakibatkan dadanya makin menonjol. Gilaa, Aku tak tahaan!

Rok itu mulai turun, bulu-bulu kelaminnya mulai tampak. Turun lagi, jelaslah, seluruh permukaan kewanitaannya memang ditumbuhi bulu, tapi tipis, pendek, dan merata. Jeanny melangkahi roknya yang sudah tergeletak di lantai. Tubuh telanjang yang nyaris sempurna. Hampir tak ada guratan atau “flek”. Gerakannya berubah menjadi erotis. Kakinya kadang membuka lebar seolah menunjukkan bahwa dia memiliki lubang dan clit. Kadang memperagakan gerakan-gerakan senggama gaya doggie. Jeanny sama sekali tak terganggu, kemungkinan ada orang lain yang menonton tubuh telanjangnya dari jendela gedung seberang. Lalu Jeanny mendekatiku. Inilah saatnya, pikirku.

Sambil masih bergoyang, Jeanny mendekat sampai ujung penisku menyentuh bawah perutnya, lalu digeser-geserkan. Lalu menjauh lagi. Huaa..! Gerakan tadi diulang lagi. Tubuhnya merendah, bangkit lagi, merendah lagi sehingga kepala penisku menyapu-nyapu dari rambut kemaluannya ke dada.

Aku sungguh tak mengerti. Setiap Aku mencoba merengkuh tubuhnya, Jeanny menghindar. Ketika aku pasif, kembali dia menggeser-geserkan ujung penisku ke tubuhnya. Sesekali aku berhasil menangkap tubuhnya dan memeluknya erat. Jeanny membuat gerakan memutar pinggul menguyek penisku seperti tadi waktu kami berdansa. Tapi ketika aku menikmati sensasi ini sambil merem dan pelukanku mengendor, Jeanny cepat-cepat melepaskan diri.

Tak ada jalan lain. Aku harus memaksa, kalau perlu memperkosa. demikian terlintas di pikiranku. Pikiran seorang lelaki lapar, yang tak mungkin menunda lagi, sementara makanan sudah siap terhidang di depan hidung. Pada suatu saat dia lengah, Aku menangkap tubuhnya, memeluk erat sambil bertahap menggeser ke tempat tidur. Jeanny bertahan, balas mendorong memepet tubuhku sampai punggungku menyandar di dinding.

“Sabar ya sayang.” Mana bisa sabar.
Tubuhnya merendah. dielusnya batang penisku. Mataku terpejam menikmati elusannya. Pada saat posisinya berlutut, kusodorkan penisku ke mulutnya. Jeanny menggeleng lembut. Tangannya makin intensif mengelusi kelaminku, hanya sebelah tangan, sedangkan tangannya yang lain menjangkau sesuatu di meja rias. Jeanny melumuri telapak tangannya dengan cairan body lotion, lalu mengocok batang penisku. Caranya mengocok sungguh merangsang.

Bersambung ke bagian 03

This entry was posted in Cerita Sex Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.