Kisah dengan Tetangga 3: Mbak Atik – 5

Cerita Sex

Cewe Bugil, ABG Bugil, SMP Bugil,  semok_WMDari bagian 4

Kuhentikan pijitanku dan langsung kutindih tubuhnya. Penisku yang tadinya sudah mulai kendor kini mengeras kembali.

“Aku akan memberikan upahmu sekarang,” katanya sambil menggulingkan badanku.

Mulutnya begerak mencium kening, pipi, ujung hidung, mengecup bibir terus menyapu leher dan dadaku. Putingku digelitik dengan ujung lidahnya. Aku merinding dan mengejang menahan geli sekaligus nikmatnya rangsangan di putingku. Kuremas dan kuciumi rambutnya.

“Ouuhh Mbak. Aahh.. Enak.. Nikmat”

Mbak Atik masih meneruskan aksi di kedua putingku silih berganti.

Kini lidahnya bergerak turun ke perutku terus ke paha dalam, lutut dan menggigitnya lembut. Aku meremas karpet untuk menahan kenikmatan. Tangannya memegang penisku dengan erat, kemudian lidahnya mulai menjilat biji, bergeser ke batang terus menuju kepala penisku. Dikulumnya kepala penisku dan gerakan blow job dilakukannya dengan lincah. Dibelahnya lubang kencingku dan dengan gerakan lincah ia menggelitik dengan ujung lidahnya.

“Mmbbaakk.. Ouhh.. Acchh!!”

Tubuhnya memutar sehingga kini selangkangannya sudah berada dimukaku. Dengan perlahan kusibakkan rambut tebal yang ada di sana dan kususupkan lidahku masuk dan mulai menjilati daging kemerahan sebesar biji jagung. Dinding vaginanya segera berdenyut merespon perlakuanku. Lidahku seakan-akan terjepit oleh dinding vaginanya.

“Sshhahh Anto. Terus To! Lakukan sesukamu To!”
“Mbak sedaap. Uuhh..!”

Kami bergantian saling mendesis dan melenguh. Mbak Atik melepaskan kuluman pada penisku.

“Kita lakukan di sini saja To!” katanya.

Pantatnya bergeser ke arah selangkanganku. Dengan membelakangiku ia berjongkok dan mengatur posisi selangkangannya agar tepat berada di kepala penisku. Diraihnya penisku dan digesekkannya di bibir vaginanya. Mula-mula hanya kepala penisku saja yang menyusup di bibir vaginanya. Dengan gerakan turun dan memutar pinggulnya maka peniskupun amblas ke dalam vaginanya yang lembab dan hangat.

Ia mulai menggerakkan pantatnya naik turun, maju mundur dan berputar. Kupegang pinggulnya dari belakang dan kuimbangi irama gerakannya.

“Anto.. Anto.. Anto.. Aauwwhh”
“Huuffpp.. Aatikk.. Mbakk”

Kuangkat badanku dan dalam posisi duduk memangkunya kuremas buah dada dan kucium tengkuknya sampai berbekas merah. Dengan perlahan kuangkat tubuhku dan iapun mengimbanginya dengan berdiri perlahan dengan membungkuk sehingga kelamin kami masih bertautan.

Kuarahkan ia bergerak ke arah sofa. Diangkatnya kaki kiri ke atas sofa dan kaki kanan berdiri di lantai. Tangannya memengang sandaran sofa. Kupegang dan kuusap pantatnya lalu kuayunkan pantatku maju mundur. Kadang kubuat sudut dengan merendahkan lututku sehingga kulit penisku menggesek dinding vaginanya dengan kuat. Bunyi paha beradu dengan pantat terdengar berirama. Kujulurkan tanganku ke depan sehingga buah dadanya dapat kuraih dan selanjutnya kuremas serta kupilin putingnya.

Mbak Atik merem melek menahan gempuranku. Apalagi ketika penisku kukeraskan dan kutusukkan berulang-ulang dengan cepat. Dadanya dibusungkan, kepalanya mendongak dan bergoyang-goyang tak keruan. Kugenjot semakin cepat dan iapun semakin kuat menggoyangkan kepalanya. Pantatnya bergerak tak beraturan, kadang maju mundur, kadang berputar. Kuturunkan irama permainan, tetapi kukeraskan penisku dan kusodok dengan pelan namun penuh tenaga. Keringat mulai menitik di sekujur tubuhku.

Kucabut penisku dan kini ia telentang di sofa menunggu penisku untuk segera memasuki guanya. Kepalanya diletakkan pada sandaran tangan. Kutumpukan berat badanku pada kedua lenganku. Dengan perlahan kuambil posisi penetrasi dan dengan gerakan sangat lambat penisku kembali masuk dalam vaginanya. Ketika sudah setengah batang masuk, maka dengan cepat kuhentakkan sampai mentok di rahimnya.

“Heehhkk.. Oouhh!”

Ia menahan napas menahan hentakanku. Kutarik lagi sampai keluar, kumasukkan dengan pelan sampai setengah dan kuhentakkan. Ia sudah siap menahan napas untuk mengimbangi permainanku. Beberapa kali kulakukan variasi ini sampai tanganku terasa lelah tidak kuat lagi menahan berat badanku.

Kurapatkan badanku di atas badannya. Kupeluk punggungnya sementara itu ia memeluk leherku dengan erat. Diciumnya bibirku dan disedotnya sampai berbunyi. Gerakanku kini pelan dan ringan saja untuk sekedar memperoleh kesempatan sedikit untuk beristirahat. Kaki kiriku menginjak lantai dan kaki kananku bertumpu pada lutut. Kedua kakinya menjepit pahaku dengan erat.

Kuangkat kedua kakinya ke atas bahuku dan dengan posisi kaki kanan berlutut kugenjot lagi. Kurasakan penisku mentok di rahimnya setiap kali kuhentakkan. Kulipat kakinya sampai lututnya menempel di perutnya. Vaginanya kelihatan semakin menonjol dan penisku semakin sering menyentuh dinding rahimnya.

“Aku capek, ganti posisi To”

Aku belum tahu posisi apa yang dia inginkan. Ia duduk di atas sandaran tangan dan merebahkan badannya. Dengan posisi berdiri kumasukkan lagi penisku. Sambil kugenjot kujepit kakinya di ketiakku. Sementara itu tangannya meremas rambutnya sendiri. Kakiku mulai goyah dan rasanya tidak kuat meneruskan posisi ini.

Kuangkat tubuhnya dan dengan berputar aku duduk di sofa memangku Mbak Atik. Kini ia yang aktif bergerak. Aku beristirahat sebentar dan mengimbangi gerakannya. Telapak kakinya memijak tepi sofa dan pantatnya bergerak maju mundur agar vaginanya dapat menelan penisku.

“Ouhh Anto.. Aku tak tahan lagi. Ayo kita.. Aahh!”

Kubaringkan badannya di atas karpet dan kuisap payudaranya dengan kuat. Kukunya kuat menghunjam punggungku. Kurapatkan kedua kakinya dan kujepit dengan kakiku. Dalam posisi ini maka dengan sedikit tenaga aku dapat meraih kenikmatan maksimal dari gesekan penisku dengan vaginanya.

“Mbaakk.. Sebentar lagi mbaakk”
“To cepat.. Lebih cepat lagi..!”

Aku semakin cepat bergerak. Kulihat bola matanya memutih dengan muka memerah. Kini kurasa tiba saatnya untuk memberikan pukulan terakhirku.

Kubuka lagi kedua kakinya sehingga melilit betisku. Kugenjot dengan cepat dan bertenaga sampai lututku terasa pedih. Namun tanggung kalau harus berhenti. Gerakanku kupercepat dan semakin cepat. Kami sudah tinggal sesaat lagi mencapai puncak.

“Sudah To.. Selesaikan sekarang. Arrcchh!” ia meraung.

Punggungnya yang bongkok udang melengkung menjauhiku, sementara selangkanngannya semakin merapat.

“Mbakk.. Ouhh!!”

Aku mengambil ancang-ancang dengan menarik penis sampai tinggal ujung kepalanya yang bersentuhan dengan bibir vaginanya dan dengan satu hentakan yang sangat kuat kuhunjamkan penisku sampai sedalam-dalamnya hingga pangkal penisku membentur tulang pubisnya.

“Antoo.. Yeahh!”

Pantatnya naik menyambut hunjamanku dan tangannya meremas rambutku sekerasnya. Vaginanya berdenyut kuat meremas penisku. Bibirnya mencari-cari bibirku dan kusambut dengan ciuman penuh gairah kepuasan. Napas kami terengah-engah, muka kami memerah karena lelah, nikmat dan sedikit pengaruh alkohol. Sampai beberapa detik denyutan demi denyutan masih kami rasakan. Ketika penisku akan kucabut ia mengkontraksikan otot vaginanya sehingga penisku tisak bisa kucabut keluar. Kubiarkan saja mengecil dan dengan sendirinya lepas dari vaginanya.

Aku berguling ke samping.

“Mbak hebat sekali permainannya”
“Sama. Kamupun hampir membuatku kewalahan. Nikmat sekali rasanya sampai kemaluanku ngilu kamu buat”

Beberapa saat kemudian napas kamipun kembali normal. Dengan berbalut handuk aku keluar mengikutinya ke kamar mandi. Lampu kamar mandi sengaja dimatikan supaya tidak kelihatan dari luar.

Sambil membersihkan badan ia masih saja menciumiku dan mencumbuku mesra. Aku menghindari cumbuannya. Bukan apa-apa. Setelah menggapai puncak rasanya badan capek sekali sehingga malas meladeni cumbuannya.

“Mbak.. Tunggu Mbak. Sudah dulu. Aku akan tidur di sini saja. Kita punya banyak waktu sampai pagi besok. Aku akan puaskan Mbak sampai besok Mbak nggak bisa buka salon,” kataku sambil melepaskan pelukan tangannya.

Kami kembali ke dalam rumah dan berbaring di ranjangnya yang empuk. Nikmat sekali rasanya setelah pertempuran di lantai hanya beralaskan karpet, kini badanku rasanya ringan dan setelah ngobrol sebentar kamipun tertidur dalam keadaan telanjang bulat.

Sekitar dua jam kemudian kami kembali berenang mengarungi samudera kenikmatan bersama-sama. Sampai pagi kami tidak bisa tidur dan akhirnya menjelang dinihari sekali lagi kami bermandi peluh kepuasan. Keadaan ranjang seperti pantai yang habis diamuk badai, berantakan tak keruan. Hari masih gelap ketika aku keluar dari rumahnya.

“Nanti malam kutunggu kamu disini, jantanku,” sambil memberikan kecupan di bibirku.

Kita lihat saja nanti. Kalau tenagaku sudah pulih OK saja. Kalau belum, tak usah saja nanti malah dia kecewa. Atau mungkin aku perlu pemeran pengganti untuk menggantikanku untuk sementara.

E N D

This entry was posted in Cerita Sex Setengah Baya and tagged , , , . Bookmark the permalink.