Mbok Inemku Yang Pemalu – 3

Cerita Mesum Terbaik

memek abg, memek smp, perawan_WM

Dari bagian 2

Kemudian aku suruh dia duduk di tengah ranjangku. Aku ambil kaca rias di meja dan aku suruh dia membuka pahanya. Terus aku taruh kaca riasku didepan memeknya. Aku suruh Inemku untuk melihat vaginanya sendiri.
“Nem.., coba kamu lihat memekmu itu..”.
Segera saja Inem memperhatikan memeknya dari kaca rias. Dia agak kaget melihat vaginanya sendiri. Mungkin baru kali ini dia melihat memeknya sendiri dengan jelas dan dia kaget kenapa bentuknya agak menggelembung di kanan kirinya, dan diatasnya ada daging kecil yang mencuat keluar. Bahkan Inemku sempat juga menarik dan memelintir clitorisnya sendiri.

Akhirnya dia sadar kalau aku juga ikut melihat memeknya dengan jelas.
“Deen.., si Mbok malu..”.
Dan dia berusaha menutupi wajahnya yang memerah dengan memelukku dan menyembunyikan wajahnya di dadaku. Aku peluk dan aku belai lembut wajah dan rambutnya. Terus aku lumat bibirnya, kuhisap-hisap mulut dan lidahnya, kujelajahi rongga mulutnya dengan lidahku. Air liur yang keluar dari bibirnya aku hisap. Air liur yang meluber dan membasahi pipinya aku jilati sampai bersih. Tanganku tidak mau tinggal diam dan ikut meremas payudaranya. Tangankupun mulai mengelus dan meremas-remas memeknya.

Akhirnya Inem aku baringkan dan aku jongkok diantaranya pahanya. Aku kangkangkan pahanya lebar-lebar dan aku mulai mainin memeknya. Terasa sekali memeknya sangat lembut dan empuk. Sesekali aku pelintir clitorisnya.
“Aduuh.. sakiit.. deen.. ooh.. gelii.. deen.. aacgh..”.
Aku pun mulai mengelus dan menyedot memeknya dengan kuat. Setelah puas dibagian memeknya, Inem aku balikkan badannya sampai tengkurap. Akupun langsung meremas bongkahan montok pantatnya, aku jilati sampai bokongnya basah oleh air liurku, dan sesekali aku gigit hingga meninggalkan guratan merah di bokongnya. Aku sendiri penasaran dan agaj jijik untuk menjilati anusnya Inem. Namun setelah aku buka lebar-lebar lipatan pantatnya, dan terlihatlah lubang kecil yang dikelilingi garis-garis keriput yang bentuknya melingkar.

Rasa jijik yang semula menghinggapiku berubah menjadi sebuah sensasi untuk menjilati dan menyedot terus tiada henti. Aku sendiri heran, kenapa daerah lipatan bokong Inemku bisa bersih, putih mulus dan baunya sangat khas.
“Aaa.. deen, geli deen.., jangan dijilati deen.., itu khan bau deen.., joo.. roochk.., deen..”. Setelah aku puas,
kemudian aku telentangkan lagi Inemku dan aku sedot terus bibir memek dan clitnya.
“Deen.. sudah deen.. si Mbok mau pii.. piis deen..”.
Dan tidak lama kemudian “Suur.. suur.. suur..” banyak sekali.. cairan hangatnya membanjiri mulutku. Aku berusaha untuk menelan semua air mani yang sudah bertahun-tahun tidak dikeluarkannya.

Setelah kujilati dan kuhisap sampai bersih, akupun tiduran disebelahnya dan kurangkul Inemku ini. Aku mulai lagi memeras payudaranya yang kalau aku perhatikan jauh lebih putih dari wajahnya, bahkan urat-uratnya pun kelihatan jelas.
“Neem.., bokong kamu montok lho.., aku suka nem..”.
“Iiih.., Adeen.., Inem malu Den.., itukan jorok deen..”.
Tanganku pun memeras dan mulutku menjilati dan menyedot buah dadanya secara bergantian dengan lahap.
“Deen.., sudah deen.., jangan deen..”.
Aku terus saja gigit pelan putingnya yang mulai keras. Kedua tangannya aku angkat ke atas dan terlihatlah kedua daerah ketiaknya yang sudah bersih dari rambut lebatnya. Aku jilati, aku sedot dan bahkan aku gigit sampai Inemku menggelinjang menahan geli di keteknya.
“Deen.., ooh.., deen..”. Aku lihat Inem sudah mulai pasrah dengan mata terpejam.

Akhirnya aku berdiri di kasur, dan aku keluarkan kontolku yang sudah tegang. Begitu kontolku sudah aku keluarkan dari CDku, aku suruh Inem untuk memegangnya.

“Nem.. sekarang coba kamu pegang dan elus-elus kontolku..!”
Si Mbok pun jongkok diantara pahaku dan mulai mengusap-usap kontolku.
“Nem.., menurut kamu kontolku gimana..”.
“Inem ngeri deen.., kontol Aden ototnya kok sampai menonjol seperti ini sih deen..”. Sambil berkata begitu, Inemku mulai mengelus-elus otot-otot kontolku dengan jari telunjuknya.
“Deen.., jembut Aden kok lebat banget sih deen..”.
“Ya sudah.., sekarang Inem gantian cukur jembut Aden sampai gundul yaa..”.
“Iyaa.., deen..”. Inem pun mulai mencukur habis jembutku, dan bahkan rambut halus disekitar anuskupun ikut dicukurnya.
Sedangkan bulu ketiakku aku biarkan tetap rimbun apa adanya.

“Neem.., coba kamu emut kontolku..”.
“Iiih adeen.., si Mbok jijik deen..”.
“Eeh neem.., dicoba dulu yaa.., kamu nati pasti suka..”.
Akupun mulai memasukkan kontolku ke mulutnya. Lidah dan air liur Inempun akhirnya membasahi kontolku dan rasanya hangat sekali.
“Iya neem.. terus.. neemm..”.
Sesekali Inem melepaskan kontolku untuk mengambil napas.
“Adeen.., kontol adeen rasanya kok asin..”.
Ya mungkin Inem sudah mulai merasakan precum yang keluar dari penisku.

Setelah puas kontolku diperkosa mulut Inem, aku merubah posisi dengan tidur tengkurap.
“Neem.., jilati bokong Aden yaa..”.
“Iya deen.., tapi Inem jiik deen..”.
Inem pun mulai menjilati bongkahan pantatku dan bahkan Inemku mulai menggigit agak keras, sehingga aku yakin banyak sekali cupang-cupang merah di daerah bokongku. Selang beberapa saat, aku mulai merasakan Inemku berusaha keras membuka lipatan pantatku. Kelihatannya Inem agak kesulitan. Sehingga aku merubah posisi menjadi nungging dan kedua kakiku aku pentang lebar-lebar.

Sekali lagi Inem membuka lipatan bokongku dan sepertinya Inem bisa melihat jelas daerah di sekitar lubang anusku. Aku sempat menoleh kebelakang dan kulihat Inem sambil menutup mulutnya tertegun agak lama melihat lobang anusku.
“Hayoo.., Inem lagi ngliatin apa.., kok kelihatannya suka banget..”.
Inemku kaget dan malu sambil menindukkan wajahnya.
“Lii.. li.. liatiin.. itunya adeen.., iih Aden.., Inem jadi malu..”.
“Neem.., jilatin lobangnya Aden jijik nggak..?, kalo Inem jijik ya nggak usah.., nanti kamu bisa muntah..”.
“Inem nggak jijik kok Den.., bokong Aden bersih dan nggak bau.., lagian Aden tadi juga nggak jijik jilatin bokongnya si Mbok..”.
Inempun mulai menjilati lobang anusku dan bahkan disedot habis sampai aku merinding geli. Kadang-kadang jarinya ditusuk-tusukkan ke lobang anusku dan mulutnya menjilati buah zakarku. Sambil merasakan geli-geli nikmat, aku terus perhatikan payudara dan memek montok Inemku yang terlihat diantara kakiku yang mengangkang. Aku lihat juga sudah banyak air liur Inem yang menetes diantara kakiku membasahi seprei.

Aku sebenarnya sudah diambang orgasme tetapi aku usahakan untuk tetap bertahan.
“Iiih Inem jorok.., kamu suka ya neem ama lobangnya Aden..”.
Aku goda begitu, Inemku hanya bisa tersenyum MALU. Inemku masih terus saja menjilati dan menyedot daerah anusku dengan SABAR dan TELATEN.

Oh.. iya pembaca, Inemku ini memang sifatnya sabar dan telaten, walaupun agak pemalu, sehingga kalau aku tidak suruh berhenti menjilati anusku, bisa-bisa seharian Inem terus saja menjilati anusku.
Pembaca (laki-laki): iya.. iya.. aku tahu.. gitu aja diomongin.. huuh.. dasar..! eehm.. seandainya istriku sesabar dan setelaten Inem.. ooh..
Penulis (pria perkasa): tuuh.. iyakan.. para suami mikirnya jadi yang macem-macem..!

Tidak sabar aku langsung berdiri dan mulai mengocok kontolku ke mulutnya Inem. Tidak lama kemudian, aku rasakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar dari penisku. Aku tarik kepala Inem dan aku kocok kontolku dimulutnya dengan cepat.. dan.. aku tekan sampai menyentuh kerongkongannya dan akhirnya “croot.. croouut.. croot.. cruuoot..!” Cairan pejuhku menyemprot dengan kencang dan tertelan oleh Inem dan hanya sedikit saja yang menetes dan jatuh menetes di leher dan payudaranya.

“Ihh.., Aden jorok.., kok pipisnya dikeluarin di mulutnya si Mbok..”.
“Enak nggak..!, Inem suka yaa.., kok ditelan semuanya..”. Inemku hanya tersipu malu dengan menundukkan kepalanya.
“Rasanya asin deen..”.
“Ya sudah.., sekarang kamu tiduran sayang..”. Kemudian aku telentangkan Inem di tengah ranjang.
“Si Mbok mau diapain lagi deen.., si Mbok udah capek deen..”.

Aku pun mulai menindih tubuh Inemku. Setelah aku siap, pahanya aku kangkangkan, dan perlahan-lahan kepala penisku aku masukkan ke bibir kemaluannya yang sudah basah. Terdengar suara erangannya dan badanya agak mengeliat, sedangkan matanya kelihatan agak sayu.
“Aaah deen.., ooh.., aacch..”.
Aku tekan pelan kontolku membelah bibir memeknya. Dan setelah kurasa mantap, aku genjot kontolku dengan keras.
“Aduuh.., deen.. sakiit.., jaangaan deen.., sudaah deen..”
Langsung aku peluk Inem, kuciumi wajah dan bibirnya. Setelah kudiamkan beberapa saat, aku mulai lagi memompa memeknya dan aku lihat Inem masih meringis sambil menggigit bibir bawahnya.

“Hmmpphh.. aachh.. auuchh.. gelii deen.. aacchh..”
“Auuhh.. oohh.., deen.., aahh,.. oough..”.
Aku mulai rasakan ada denyutan-denyutan kecil vaginanya di kontolku, pertanda dia sebentar lagi orgasme. Badan Inem terlonjak-lonjak, dan kedua kakinya mengejang sedangkan nafasnya kelihatan megap-megap.
“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli deen.. aahh.. ooh..”.
“Deen.. si Mbok mau pipiiss.. deen..”.
“Seerr.. suurr.. suurr..”
Air mani Inem membasahi kontolku yang masih tertanam di vaginanya.

“Aaah.., deen.., ooh..”.
Terdengar erangan kenikmatan panjang keluar dari bibir Inemku. Aku elus wajah cantik Inemku, matanya yang setengah terpejam dan rambut panjangnya yang tergerai menambah keanggunannya. Akupun mulai lagi push-up mengenjot memeknya dan aku tekan dengan keras sehingga kurasakan kontolku menyentuh dinding rahimnya.
“Deen.. oockh.. deen..”. Kepala Inempun menengadah ke atas dan matanya membelalak merasakan tusukan kontolku di memeknya.
“Simbook capeek.. deen..”.
Akupun semakin cepat mengenjot memeknya dan “croot.. cruut.. croot.. croot.. cruuoot..!”. Inemku sempat kaget merasakan ada cairan hangat yang masuk ke dalam vaginanya. Aku muntahkan cairan pejuhku kedalam rahimnya. Aku langsung ambruk menindih tubuhnya yang banjir keringat.

Setelah keringatku dan Inem sudah mulai agak berkurang. Aku cabut kontolku dari lobang memeknya, terlihat memeknya agak memerah karena terlalu keras aku memompanya dan lendir putih mengalir keluar dari liang kemaluan membasahi pahanya.
Aku peluk dia dan aku cium dengan mesra Inemku. Aku dan Inempun langsung mandi bareng. Di kamar mandi, aku dimandikan dia dengan sabar dan telaten sekali seperti seorang Ibu memandikan anaknya.

Oh.. iya pembaca, Inemku ini memang sifatnya sabar dan telaten, walaupun agak pemalu.
Pembaca: “Iyaa.. iya.., tadi khan sudah cerita.., dasar cerewet..”.
Penulis: “Oh.. iya.. sorry aku lupa.. (hi.. hi.. hi..)”.

Setelah berpakaian rapi, aku dan Inem keluar kamar. Aku lihat didepan TV, Tika dan Intan sudah tertidur pulas. Aku ajak Inem duduk di sofa dan aku peluk dia sambil aku belai lembut rambut dan wajahnya. Inem hanya bisa tersenyum malu dan menyenderkan kepalanya di dadaku. Aku lihat wajahnya, ada air mata yang menetes, aku angkat dagunya dan aku lumat mesra bibirnya.

Aku peluk lagi Inem dan akhirnya dia tertidur pulas dalam pelukanku. Aku perhatikan lagi wajahnya, dan terpancar ada senyum kebahagiaan di bibirnya.

Seminggu kemudian Tika dan Intan aku sekolahkan lagi. Nah pembaca yang setia, di hari pertama sekolah itulah kejadiannya. Saat itu Intan baru saja pulang sekolah dan langsung tertidur di sofa dekat TV, masih dengan seragam sekolahnya. Disofa inilahi aku akhirnya merengut kegadisan intanku.
Pembaca mau nggak kelanjutan ceritanya.
Pembaca: “Maa.. uu..”.
Penulis: “Aduuh.. jangan keras-keras ngomongnya. Nanti Inemku bangun. Tuh iya kan, Inem bangun..”.
“Deen.., itu tadi suara siapa.., kok keras banget..”.
“Bukan siapa-siapa nem.., ayo bobok lagi sayaang..”.
“Inggih.. deen..”.

E N D

This entry was posted in Cerita Sex Setengah Baya and tagged , , . Bookmark the permalink.