Kenari 05

jangan lupa di save, saving, bookmarks, thank you
Cerita Sex : Bergambar Paling Complete
terima kasih atas kunjungan nya 😀

Cerita Sex : Kenari Part 5Kumpulan Cerita Sex, artis bugil, Cerita Sex Memek, Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum.

Cewek Jilbab bugil_WM
( Kumpulan Cerita Sex : Plus Gambar Artis Bugil )

Kumpulan Cerita Sex dan memek korea, terbaik 😀

Sambungan dari bagian 04

Hari-hari berikutnya kulalui bersama Kenari dengan tambah sayang dan mesra. Walaupun hanya sebentar, setiap pulang kerja dia selalu mampir ke rumah atau tokoku. Yah, minimal hanya untuk setor pipi kiri dan kanannya buat kukecup dan dibalas dengan kecupan yang sama di pipiku. Kalau tokoku agak sepi dan rasa kangenku tidak dapat kutahan, maka aku lah yang menjemputnya. Tapi biar tidak ketahuan sama teman kerjanya, kutunggu di toko buku, 200 meter dari kantornya. Sebab kalau sampai ketahuan teman-temannya bisa gawat tuh! Nanti beritanya bisa sampai pada telinga Pak Haryo, bosnya Nari, terus Pak Haryo bisa lapor sama papanya Nari, kan Pak Haryo itu kolega papanya Nari!

Kalau Nari dapat membuat alasan untuk tidak pulang cepat pada mamanya, dia selalu datang ke rumahku untuk mandi, masak, dan dilanjutkan dengan makan malam bersama. Aku sudah membelikannya baju santai yang dapat dipakai di rumah, baik itu baby doll atau daster, atau pakaian-pakaian yang lain. Setelah itu kami ngobrol-ngobrol saling bertukar pikiran, menata masa depan, nonton TV, bersenda gurau dan semuanya itu biasanya kami akhiri dengan saling mencium, membelai, menggesek dan seterusnya sampai terlepas semua pakaian yang kami kenakan.

Kami sudah tidak malu-malu lagi melakukannya, seperti sepasang suami istri saja. Tapi sesuai dengan permintaannya, aku selalu menjaga satu hal, yaitu keperawanannya. Ia akan menyerahkan ‘mahkota’ yang berharga itu pada saat malam pertama kami, pada saat kami resmi menikah nanti. Selebihnya aku sudah nikmati sampai saat ini, mulai dari ujung atas rambutnya sampai dengan telapak kakinya.

Berbagai macam gaya pun sudah kami coba, mulai dari yang konvensional, doggie style, miring, sambil tiduran, duduk, jongkok, pokoknya macam-macam lah. Kami pun banyak memperoleh kepuasan dalam melakukan ‘hubungan suami istri’ tersebut. Yang penting aku tidak memasukkan penisku ke dalam vagina Nari, titik. Jadi hanya sekedar dibelai, diurut, disedot, dikempot atau digesek-gesek saja itu sudah cukup. Cukup untuk memperoleh kenikmatan yang kami inginkan. Tidak jarang setelah itu kami mandi bersama untuk saling membersihkan tubuh kami. Atau kadang nambah porsi lagi di dalam kamar mandi.

Suatu hari saat Nari berada di rumahku dia berkata, “Tong, besok aku ambil cuti 3 hari dari kantor. Aku pengin pergi ke Yogya. Kita ke sana yuk berdua. Jalan-jalan sambil bulan madu, hi.. hi.. hi..” dia berkata begitu sambil bergelayut di pundakku.
Kalo sudah begini aku tidak akan dapat menolaknya. Dia memang sangat lihai kalau merayuku untuk menuruti kemauannya. Malamnya aku mempersiapkan segala sesuatu yang perlu kubawa untuk berlibur ke Yogya. Kami janjian ketemu di terminal bis. Dan kali ini Nari membuat alasan ingin berkunjung ke teman kuliahnya dulu, kangen katanya. Mamanya pun mengijinkan.

Setiba di Yogya kami menyewa penginapan yang cukup lumayan. Kukatakan pada resepsionis bahwa kami adalah sepasang pengantin baru yang sedang menikmati bulan madu. Resepsionisnya hanya tersenyum saja. Memang, aku merasakan kami layaknya pengantin baru saja. Kami dapat tidur sekasur berdua. Bangun tidur dibangunkan dengan ciuman Nari di pipiku. Mandi bersama. Baju yang akan kupakai sudah dia siapkan. Makan sambil suap-suapan. Jalan tidak pernah lepas gandengannya. Kata-katanya selalu manja. Dan yang tidak bosan-bosannya kami lakukan, ngesex tanpa penetrasi.

Hari ini adalah hari ketiga kami berada di kota Yogya, berarti tinggal satu hari ini saja kami menikmati kebersamaan kami di kota Yogya untuk selanjutnya pulang kembali ke kota kami menghadapi ‘perang kucing-kucingan’ kami. Saat itu kami sedang berbelanja beberapa souvenir di Jalan Malioboro.

Pada saat kami akan menyeberang jalan, lewatlah sebuah Mercedes Benz S-320 warna hitam di depan kami. Mobil mewah itu tiba-tiba berhenti setelah melewati kami. Pintunya terbuka. Dan.., duaar..! Bagaikan ada petir yang menyambar, betapa terkejutnya hati kami karena pria yang keluar dari mobil itu ternyata Papanya Nari..! Wajahnya merah padam. Kami yakin beliau sangat marah melihat kami saling bergandengan mesra di kota Yogya ini, yang jauh dari kota kami. Apalagi kami tahu bahwa papanya Nari sangat tidak menyukaiku. Kami juga heran, kenapa papanya Nari sampe ada di kota Yogya..? Mungkin beliau lagi ada urusan bisnis di kota ini..?

“Nari..! Sini kamu..!” teriak papanya Nari.
Tangan Nari yang mulus dan mungil itu langsung ditarik oleh tangan kekar papanya dan tanpa banyak kata-kata langsung didorongnya Nari ke dalam Mercedes itu.
Sebelum dia tutup kembali pintu, papanya Nari bangkit lagi kemudian melihat ke arahku sambil menunjukku, “Awas kamu..!” hanya itu saja kata yang keluar dari mulut papanya Nari.
Mercedes Benz S-320 yang mereka tunggangi pun melesat cepat. Aku hanya berdiri terpaku melihat semua itu ditambah lagi ratusan pasang mata yang melihat peristiwa itu menatap juga ke arahku.

Aku hampir-hampir tidak percaya dengan kejadian barusan. Kejadian yang sangat tiba-tiba dan cepat. Aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan Nari. Bagaimana amarah yang akan dia terima dari papa dan mamanya. Aku segera berlari menuju penginapan dan memberesi barang-barang kami untuk kembali ke kotaku. Aku harus menyelesaikan masalah ini. Aku akan menghadap orangtua Nari dan menjelaskan semuanya, kalau perlu aku akan melamarnya sekalian walaupun kemungkinan untuk diterima sangat kecil bahkan sangat mustahil.

Baru saja aku menginjakkan kaki di rumahku, saat aku akan membuka pintu rumah. Berhenti sebuah Jeep CJ-7 warna hitam di depan rumahku, dari dalam keluar 5 orang laki-laki berbadan kekar berpakaian hitam-hitam, memakai kacamata hitam. Mereka langsung menghampiriku. Tanpa bertanya apapun padaku mereka langsung menghajarku. Ditinjunya wajahku, perutku. Darah keluar dari hidung, mulut dan pelipisku.

“Mulai saat ini jangan kamu dekati Kenari..!” hanya itu kata-kata yang keluar dari salah satu diantara mereka sebelum mereka meninggalkanku.
Rupanya mereka tukang pukul papanya Nari. Aku masuk dengan tertatih-tatih menahan sakit ke dalam rumahku. Segera kucuci lukaku dan kukompres dengan air es. Ketika kulihat di cermin wajahku bengkak dan biru di mana-mana. Mungkin inilah harga yang harus kubayar kalau aku mencintai Nari. Tapi aku tidak takut, nyawa pun akan kuserahkan kalau memang itu yang harus kuberikan untuk mendapatkan Nari.

Esoknya aku datang ke rumah Nari seperti tekadku sebelumnya. Tapi belum sampai aku ketemu papa dan mamanya, tukang-tukang pukul itu kembali menghajarku. Sayup-sayup aku mendengar suara Nari, mungkin dari balik kamarnya yang memohon agar tukang-tukang pukul itu berhenti menghajarku. Aku pun kembali pulang dengan tubuh yang babak belur. Satu minggu lamanya aku tidak dapat keluar rumah karena luka dan memar yang kuderita.

Sampai pada suatu pagi, bel rumahku berbunyi. Ketika kubuka ternyata ada seorang ibu setengah baya dengan terburu-buru memberikan sepucuk surat kepadaku.
“Mas, ini dari Non Nari. Sudah ya Mas, Ibu harus cepat kembali.”
Belum kubalas dengan terima kasih, ibu itu segera keluar pagar pintu rumahku. Aku yakin itu adalah salah satu pembantu Nari yang dititipi surat untukku. Segera kututup pintu dan kubaca surat dari Nari.

Itong sayang.. Maafin Nari yaa.. Karena Nari Itong harus merasakan dipukuli sama centeng-centengnya papa. Nari juga ditampar sama papa. Papa sangat marah sekali mengetahui kalau kita backstreet. Itong kan tahu kalo papa dan mama nggak suka sama Itong. Tapi Nari sayang sama Itong. Nari cinta sama Itong.

Mama Nari juga marah sekali sama Nari, karena selama ini Nari telah membohongi mama. Sampe-sampe jantung mama kemarin kumat. Mama mengancam Nari untuk memilih mama atau memilih berpisah dengan Itong, karena papa dan mama ternyata sudah menjodohkan aku dengan anak Pak Robert, rekan bisnis papa. Bisnis mereka memang besar, makanya papa pingin dengan pernikahan kami nanti bisnis papa akan semakin besar. Tapi Nari tidak cinta dia Tong.. tidak sayang dia.. Nari hanya sayang dan cinta sama Itong.. Hari pernikahan kami pun sudah ditetapkan, yaitu tanggal 10 bulan depan ini, atau hanya kurang 20 hari lagi. Papa dan mama tidak ingin berlama-lama lagi.

Itong sayang.. Saat ini Nari dikunci terus dalam kamar. Tidak ada telepon atau alat komunikasi lain. Kalo Nari butuh sesuatu hanya lewat intercom. Nari terasa hidup di dalam penjara. Buat apa rumah yang besar dan mewah seperti ini kalo Nari harus hidup terpenjara. Makanya Nari nekat menulis surat ini dan aku titipkan pada si Mbok yang akan pergi ke pasar untuk memberikan surat ini pada Itong.

Itong sayang.. Kalau saja pernikahanku dengan anak Pak Robert tidak bisa aku hindari lagi, Nari minta maaf yang sangat besar ya sama Itong. Tapi yakinlah Tong, walaupun dia dapat memiliki tubuhku, walaupun dia akan merasakan keperawananku yang selama ini kamu jaga dengan baik, dia tidak akan dapat memiliki hatiku, cintaku, dan sayangku, karena semua itu hanya Nari berikan buat Itong.

Itong sayang.. Setelah kami menikah nanti, aku akan langsung diboyong ke Amrik. Nari minta Itong jaga diri baik-baik ya, karena Nari sudah nggak bisa lagi mendampingi Itong. Sebab kalo sampe ketahuan Nari lari dari dia, mama akan bertambah parah sakitnya, dan mungkin bisa.. mati. Nari sayang sama Itong, tapi Nari juga sayang sama mama. Itong harus ngerti ya..

Itong sayang.. udah ya.. Nari rasanya nggak ingin pisah sama Itong, tapi mungkin inilah yang namanya takdir. Sekali lagi jaga diri Itong baik-baik. Nari sayang sama Itong. Cinta dan sayangmu, Kenari

Tidak terasa air mataku menitik membaca surat Nari. Dia akan menikah 20 hari lagi. Dia akan menjadi milik orang lain. Lemas tubuhku, rasanya hidup ini sudah tidak bersemangat dan bergairah lagi. Hari-hari kulalui dengan memandangi foto-foto Nari, foto kami berdua, memandangi tawanya yang lepas dan memetik mawar kesukaannya untuk kutaruh di vas bunga pada meja makanku. Setiap pagi kucoret kalenderku, kusilang angkanya. Bertambah dekat dengan tanggal 10, tanggal pernikahan Nari yang kuberi lingkaran warna merah.

Pagi itu kusilang angka 6. Hari ini tanggal 7. Berarti tinggal 3 hari lagi. Mataku berkaca-kaca melihat angka 10.

Tiba-tiba, “Ting-tong-ting-tong-ting-tong..!” suara bel rumahku dipencet orang berulang kali.
“Siapa sih..? Nggak tahu apa kalau aku lagi sedih, lagi mau nangis..!” gerutuku.
Betapa terkejutnya aku, ketika kubuka pintu, ternyata yang berdiri di situ Nari..! Dia langsung berlari dan menutup pintuku.
“Itoong..!” Nari langsung menubruk dan memelukku.
Dia menangis. Aku hanya diam sambil juga ikut memeluknya dengan erat. Aku diam tapi juga bingung dan heran, bagaimana bisa dia lolos dari ‘penjara’.

Perlahan kududukkan dia di sofaku yang berada di ruang tengah sambil terus berpelukan.
“Itoong.., Itong tidak perlu bertanya bagaimana Nari bisa datang ke sini. Yang penting Nari sekarang ada di sini, ada di samping Itong, Nari ingin bersama Itong.”
Nari masih tetap erat memelukku. Aku masih diam. Lama sekali kami diam menikmati pelukan ini yang mungkin menjadi pelukan kami yang terakhir, yang mungkin jadi pelukan perpisahan bagi kami.

Tiba-tiba Nari melepaskan pelukannya. Dia menatap wajahku, dia pegang pipiku dengan kedua belah tangannya. Di wajahnya dapat kulihat air mata yang menitik dari matanya yang masih tetap indah walaupun terlihat agak lebam, mungkin karena terlalu banyak menangis.
“Itong sayang.., 3 hari lagi aku akan melaksanakan kewajiban baktiku kepada papa dan mama untuk memenuhi kemauan mereka menikah dengan orang yang sama sekali tidak kucintai. Tapi aku juga tidak bisa melupakan janjiku padamu untuk menyerahkan milikku yang paling berharga padamu, orang yang kucintai, orang yang kusayangi. Ambillah Tong, ambillah..! Ini hakmu, aku ikhlas, aku rela.”

Belum sempat kubalas ucapannya. Bibir lembut Nari langsung mengecup bibirku. Kelembutan yang membuatku lupa dengan segala kesedihanku selama ini. Kubalas kecupan Nari dengan kecupan yang lembut pula di bibirnya. Lidah kami saling menari, beradu di dalam rongga mulut kami. Aku dan Nari sama-sama terpejam menikmati bersatunya bibir kami.

Setelah lebih kurang 15 menit, kuajak dia berdiri sambil masih tetap berciuman. Kuajak dia berjalan ke arah kamarku. Di dalam kamar, dengan posisi berdiri kulepas sejenak ciuman kami, kupandangi sejenak wajahnya, kubelai rambutnya yang halus, kemudian aku mulai mencium lehernya.
“Oohh..!” Nari memeluk erat leherku.
Aku terus menjelajah lehernya yang jenjang, putih dan mulus. Baunya yang wangi membuatku betah di daerah itu. Sementara itu tanganku mulai menggosok-gosok pinggangnya, kemudian menyelusup masuk kaos yang dipakainya untuk menggosok-gosok punggungnya.

“Oohh..!”
Sejenak kuhentikan ciumanku. Kutarik kaosnya ke atas dibarengi dengan diangkatnya kedua tangan Nari untuk memudahkan kaos itu terlepas dari tubuhnya. Apa yang kulakukan juga diikuti oleh Nari, t-shirt yang kupakai pun dilepasnya dengan cara yang sama. Aku kembali mencium, kali ini belahan dadanya yang montok menjadi sasaranku. Aku sengaja tidak membuka dahulu kancing BH-nya, aku terus turun menciumi perut dan pusarnya dan terus turun menuju kancing jeans yang dipakainya.

Perlahan kubuka kancing dan retsluiting jeans itu, dan kutarik turun jeans itu untuk melepaskannya dari kedua kakinya. Kini Nari hanya tinggal memakai BH dan CD dengan warna yang sama, pink. Dia pun melepaskan celana pendek yang kupakai, sehingga aku pun tinggal memakai celana dalam saja. Kembali kukecup bibirnya. Kedua tangannya juga kembali dilingkarkan di leherku. Kemudian kugendong dia untuk kuletakkan di atas tempat tidurku.

Nari berbaring dan aku berada di atasnya. Matanya terpejam. Bibirnya yang bawah dia gigit. Aku kembali menciumi lehernya.
“Oohh..!” ciuman di lehernya terus kulakukan dengan berpindah-pindah, dari kiri ke depan kemudian ke kanan, balik lagi ke depan, ke kiri, bahkan juga ke belakang lehernya.
Sementara itu tangan kiriku menyelusup masuk ke arah punggungnya mencari kaitan BH. Dengan sekali jentik, lepaslah tali pelindung payudaranya.

Kini ciumanku turun menuju dua bukit indah yang masih tertutup BH itu. Dengan pelan dan lembut kuciumi permukaannya. Kiri, kanan, kiri, kanan sambil sedikit demi sedikit turun, demikian juga dengan BH-nya kutarik pelan juga. Dan akhirnya tersembullah puting susu yang berwarna merah muda itu. Putingnya sudah berdiri tegak, menandakan gairah yang melandanya sudah tinggi. Kulemparkan saja BH Nari sembarangan.

Sepasang buah dada yang indah, bagai dicetak dengan dua batok kelapa, sempurna sekali, tidak ada sedikit pun otot yang kendor walaupun sudah sering ku-‘unyel-unyel’. Apa lagi dalam gairah yang tinggi ini, payudara itu tampak lebih padat dan kenyal. Aku tidak tahan untuk menelan air ludahku. Langsung saja kuciumi, kujilat buah dada yang ranum itu, kemudian kusedot putingnya yang mencuat indah. Kalau sedang kucium yang kiri, maka yang kanan kubelai dan kuremas lembut dengan tanganku, demikian juga jika buah dada yang kanan kalau kucium, maka yang kiri pun kubelai dan kuremas lembut. Napas Nari semakin cepat, nyanyian suara birahinya mulai keluar satu persatu. “Ooohh.. sshh.. oohh..!”

Setelah puas dengan payudaranya, ciumanku turun ke arah perutnya. Kuciumi pusarnya, kujilati memutari pusar itu.
“Aaugghh..!” pinggangnya yang rampingpun juga tidak luput dari jilatanku. Tangan Nari mencengkeram erat rambutku. Tidak lama kemudian kubalik tubuhnya. Kini dia dalam keadaan tengkurap. Kusibakkan rambutnya agar aku dapat melihat bagian belakang lehernya. Kucium dan jilat leher itu.
“Oogghh..!” Kedua tangannya mencengkeram kain sprei. Kemudian kuciumi punggung atasnya, ketiaknya, lengannya yang halus, dan kukulum jari-jari tangannya.

Aku ingin setiap bagian tubuhnya tidak akan kulewatkan pagi ini.
“Oohh.. oohh..!” ciumanku terus turun mengikuti ruas tulang punggungnya, sekali lagi aku lakukan dengan sangat pelan dan lembut sambil memberikan belaian yang lembut pula pada kedua belah sisi punggungnya, sampai pada pinggulnya yang montok.
Kuciumi pinggul itu tanpa melepaskan CD yang menutupinya untuk terus lewat menuju paha bagian belakang. Terus mencium dan membelai sampai bagian belakang lutut.

Menurut buku yang kubaca, daerah belakang lutut adalah daerah yang sangat sensitif yang dapat merangsang gairah birahi wanita. Benar juga, saat kucium dan kujilat daerah itu. Tubuhnya menggelepar-gelepar. Suaranya terdengar lebih keras, “Auuhh.. auhh.. aauhh..!” Kemudian ciumanku turun ke betis serta dilanjutkan ke telapak kakinya. Ciuman dan jilatan itu kulakukan dengan pelan, penuh perasaan cinta dan sayang, dari atas ke bawah, kemudian balik lagi ke atas, sampai 3 kali.

Bersambung ke bagian 06

This entry was posted in Cerita Sex Umum and tagged , , , . Bookmark the permalink.