Eksanti, Affair Pertamaku – 1

Cerita Sex Bergambar dan Terbaik di Kelasnya,
CerSexMek – Cerita Sex Memek | Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Terbaru dan Terbaik.

Cewek Bugil Ngentot,  tante girang_WM
( Selalu Menyajikan Cerita Sex Terbaru dan Foto Memek Terbaik )

Waktu itu jarum jam di dinding ruangan kantorku telah menunjukkan pukul 7 malam. Aku sudah berkemas-kemas untuk pulang, karena kebetulan waktu itu aku mempunyai janji dengan seorang teman lamaku di daerah Cinere. Sewaktu aku berjalan melewati front office, aku melihat Eksanti juga sedang berbenah hendak pulang. Ketika aku bertanya mau pulang ke arah mana, ternyata ia mau ke rumah salah seoarang kawannya di daerah Lebak Bulus. Jadi kami bisa searah satu jalan. Kebetulan, Eksanti tidak membawa kendaraan sendiri, sehingga aku menawarkan untuk pulang bersama semobil denganku. Ternyata Eksanti pun setuju, “Terima kasih Pak, daripada kehujanan”.
“Lumayan ada teman ngobrol di jalan”, fikirku dalam hati.

****

Gerimis rintik-rintik membasahi jalanan yang kami lewati. Dan seperti biasa kalau sedang hujan, penyakit di daerah selatan Jakarta, macetnya minta ampun.. Waktu sangat cepat berlalu, jam di mobilku menunjukkan pukul 20.15.
“Dingin Santi..?”, aku bertanya memecah keheningan kami berdua ketika kami sampai di sekitar Blok A. Memang aku merasakan mobilku dingin sekali AC-nya, padahal sudah aku setel minimal. Mungkin karena hujan, meskipun tidak begitu deras.

“Iya Pak. Dingin banget”, jawabnya sambil mendekapkan tangannya ke dada.
“Kalau lagi di luar kantor gini jangan panggil aku Pak dong.., ntar kelihatan tua aku. Panggil aku Mas saja yaa.. Toh, usia kita nggak beda jauh”, kataku berusaha untuk mencairkan suasana.
“Ya.. Mas”. Ia tersenyum ke arahku.

Hujan makin deras. Jalanan makin macet. Pukul 21.00 kami masih berkutat di kawasan Blok A.
“Aku lapar, Santi”, ujarku spontan
“Sama. Aku juga dari tadi, Mas..”, Eksanti menjawab jujur
Kami tertawa bersama. Perut kosong, badan menggigil. Bayangkan.., kami mengobrol apa saja tentang kantor, teman-temannya, keluarga sampai keinginannya untuk segera mendapat pacar yang mau mengerti dirinya. Aku lebih banyak menjadi pendengar cerita Eksanti. Kali ini baru aku sadari, ternyata Eksanti yang duduk di sebelahku bukanlah seperti Eksanti yang aku kenal dalam waktu-waktu terdahulu di kantor. Dalam curhatnya, ia terlihat sangat rapuh.

Entah memang nasibku untuk selalu menjadi tempat curhat orang lain. Dari dulu semasa di bangku sekolah hingga kini setelah bekerja, aku selalu dijadikan tempat curhat orang-orang dalam lingkaran terdekatku. Dan kini aku harus menghadapi Eksanti yang sesekali sesunggukkan, meremas-remas sapu tangannya dan menghapus air matanya yang mulai jatuh satu persatu. Love.. look what you have done to her, bastard..!

Aku mencoba menenangkannya sebisaku dengan menganalisis kehidupannya dari berbagai perspektif. Aku hanya bisa mengatakan bahwa ia masih beruntung karena ditunjukkan ketidaksetiaan kekasihnya pada saat mereka belum menikah, karena akan lebih sangat menyakitkan jika semua itu dihadapi justru ketika mereka telah menikah.

Setelah beberapa waktu kami membahasnya, Eksanti terlihat sudah agak tenang.
“Thanks Mas, kamu mau jadi tempat sampah Santi,” katanya sambil sedikit tersenyum.
“That what friends are for,” jawabku singkat sambil menepuk-nepuk kepalanya seperti kepada seorang anak kecil.
“Mas, kamu itu aneh yaa..?” tiba-tiba suara Eksanti menyentakku.
“Aneh.., apa sih maksud kamu?” tanyaku asal.
“Hihihihi..” terdengar Eksanti cekikikan mendengarnya.
“Yaa.. aneh aja, Santi sudah kenal Mas dari beberapa tahun yang lalu, tapi rasanya Santi nggak pernah merasa dekat dengan Mas, sampai dengan hari ini.., ” kata-kata Eksanti meluncur lancar dari mulutnya.
“..sampai Santi mau curhat sama mas, padahal Santi paling jarang curhat, apalagi sama orang yang nggak deket bener dengan Santi.”
“Sama, aku juga gitu kok. Bisa aja.., jangan-jangan kita pernah ketemu di kehidupan lain sebelumnya yaa..?” jawabku sambil nyengir.
“Ada-ada aja kamu, mas..” katanya sambil tiba-tiba merebahkan kepalanya di bahu kiriku.
Jujur saja, aku cukup terkejut menerima perlakuannya, tapi santai saja, lagipula apalah yang mungkin terjadi dari sebuah bahu untuk menyandarkan kepala sejenak?

Dengan sudut mataku, aku meliriknya, Eksanti tampak sangat damai. Ia sedang menggosok-gosokkan tangan kanannya ke hand rem, mungkin biar hangat. Lalu tiba-tiba, dengan tangan kiriku sengaja aku pegang tangannya.
“Tanganmu dingin banget, Santi”.
“Dari tadi, mas..”.
“Tanganku juga yaa..?”.
“He eh..”, sahutnya tanpa mencoba melepas tangannya dari remasanku. Hujan tetap lebat, sehingga praktis mobilku berhenti seperti yang lain. Macet.

Dalam keheningan, aku meremas-remas tangannya. Eksanti diam saja. Bahkan ia juga mulai ikut membalas meremasi jari-jemariku.
“Lumayan. Agak hangat”, kataku.
“He eh..”, jawabnya lagi sambil senyum.
Aku melirik ke arah Eksanti, ia mengenakan rok mini warna gelap berbunga-bunga kecil warna terang. Meskipun cahaya di dalam mobilku agak gelap, namun aku masih bisa melihat dengan jelas kaki jenjangnya yang putih mulus tanpa cela, semakin kelihatan kontras dengan warna roknya. Aku membawa tanganku ke atas pahanya. Eksanti masih terdiam. Lalu dilepaskannya tangannya agar tanganku leluasa menyentuh.. meraba.. kulit mulusnya. Halus, haluus.. sekali pahanya. Aku mengusap-usap naik turun. Perlahan tapi pasti, aku mulai menyentuh ujung-ujung renda celana dalamnya. Dari ujung lutut, merayap perlahan ke atas, dengan gerak mengambang aku mengusap-usap sampai menyentuh kembali pangkal celana dalamnya. Berulang-ulang, “Hmm..”, lenguhnya.
“Makin hangat, Santi”, bisikku.
Eksanti diam saja. Aku meliriknya lagi, ia memejamkan matanya. Tangannya memegang tanganku, dan di diusap-usapkan ke atas lapisan satin celana dalamnya. Kini Eksantilah yang mengendalikan tanganku. Aku merasakan, ia mulai basah.

Tanpa aku sadari, mobilku sudah melewati Golden Trully. Aku menarik tangan Eksanti, aku membawa jemari halusnya ke atas kejantananku yang sejak tadi sudah menegang, tetapi masih rapi tertutup celana pantalonku. Eksanti mengerti. Dia meremas-remas lembut batang kejantananku. Lama.., kami saling mengelus, mengusap dan meremas bagian-bagian yang paling sensitif dari tubuh kami masing-masing. Aku juga merasa, setetes cairan bening sudah mulai membasahi celana dalamku. Eksanti tetap memejamkan matanya. Tanganku terus aktif bergerilya. Perlahan-lahan aku tarik dengan lembut rambut kewanitaannya dari celah samping celana dalamnya. Eksanti terus melenguh. Pahanya makin panas. Tangannya makin aktif mengelus-elus kejantananku dari luar.

Tidak terasa, kami sudah sampai di perempatan Fatmawati – Simatupang. Arah lurus ke Cinere masih macet, kanan ke arah Pondok Indah jalanan kosong. Jam di mobil sudah menunjukkan pukul 23.00.
“Aku laper”, bisikku lembut sambil menjilat belakang telinganya.
“Cepet mampir. Bisa pingsan aku. Laparr.. juga aku”, ia mendesah pelan.

Aku memutuskan untuk mengambil arah ke kanan, lalu menyusuri jalur paling kiri. Untuk sementara, kegiatan usap-mengusap, remas-meremas, kami dihentikan. Sekarang kami akan mencari makan dulu. Aku melihat bangunan berpagar bambu gelap, jalan masuknya menurun. Mungkin itu adalah sebuah hotel dan kami bisa makan di sana.
“Kiri yaa..?, Mungkin kita bisa makan di resto-nya”, bisikku.
“Itu restoran..?”, tanya Eksanti.
“Nggak tahu. Kalo resto yaa.. syukur, kalau hotel kita bisa makan di restonya”, jawabku sejujurnya. Sejujurnya, waktu itu aku memang belum tahu sama sekali tempat apa itu.

Aku membelokkan mobil ke kiri, lalu terlihat ada orang yang berlari-lari memakai payung menyambut dan memberi kode untuk mengikutinya. Dia menunjuk suatu tempat seperti garasi dan mempersilakan mobilku masuk ke dalam garasi itu. Aku masuk, lalu ia segera menutup pintu garasi. Aku memandang bingung ke arah Eksanti. Dia mengangkat bahunya tanda bahwa ia bingung atau tidak tahu juga.

Aku lalu turun, sementara Eksanti masih tinggal di dalam mobil. Aku mengikuti petugas yang masuk ke sebuah pintu di dalam garasi itu. Ternyata pintu itu langsung menghubungkan garasi ke suatu kamar tidur. Sebuah spring bed besar berada di tengah ruangan. Dua tempat duduk dan satu meja kaca, lemari buffet kecil dengan pesawat TV 20 inch di atasnya, melengkapi perabotan di sisi-sisi ruangan. Di dindingnya tertempel sebuah kaca cermin yang besar. Di sana juga tersedia kamar mandi di dalam ruangan, yang dilengkapi dengan shower.

Ooo.., ternyata ini hotel atau motel garasi, seperti yang sering diceritakan teman-teman priaku. Setelah membereskan pembayaran kamar dan memesan makanan, petugas segera keluar melalui pintu penghubung ke garasi tadi. Aku mengikutinya.
“Turun yuk..”, kataku kepada Eksanti, yang masih berada di dalam mobil.
Eksanti turun dari mobil dan aku menggandengnya masuk ke dalam kamar. Lalu pintu segera aku kunci dari dalam. Melihat isi kamar itu Eksanti tampak tertegun. Aku lalu bergeser, berdiri tepat di hadapannya. Mataku tajam memandang ke arah mata indahnya, aku tidak bisa menduga apa yang ada dalam benaknya saat itu. Eksanti pun membalas memandangku, ada sesuatu yang bergelora disana. Agak lama kami berdua saling tertegun, terdiam..

Cukup lama kami masing-masing terdiam dalam posisi ini sambil memandang sebagian horizon langit yang dipenuhi kerlap-kerlip bintang yang mulai nampak setelah hujan reda dari jendela kamar itu. Sayup-sayup terdengar suara dari TV dalam kamar, rintihan Sinnead O’Connor yang tengah menyanyikan lagu legendarisnya:
..I can eat my dinner in the fancy restaurant but nothing, I said nothing can take away this blue cos nothing compares, nothing compares to you..

Perlahan aku usap rambutnya dan memberanikan diri untuk mengecup keningnya. Eksanti mendongakkan kepalanya untuk memandangku. Beberapa saat kami saling berpandangan, ah oase kedamaian dari pancaran matanya inikah yang selama ini aku cari? Mungkinkah aku menemukannya hanya dalam beberapa jam saja setelah sekian lama aku mencarinya entah kemana? How can I be so sure about that? dan sekian banyak pertanyaan lainnya berkecamuk dalam pikiranku melewati detik demi detik kami berpandangan. Yang aku tahu beberapa saat kemudian wajah kami semakin mendekat dan sekilas aku melihat Eksanti menutup matanya dan pada akhirnya aku kecup lembut bibirnya.

Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba tubuh kami sudah saling merapat. Aku mencium Eksanti sampai nafasnya terengah-engah. Aku menjilati bibirnya sambil tetap dalam posisi berdiri. Lidahku meliuk-liuk di dalam mulutnya. Eksanti pun tak kalah garang. Dia memeluk tubuhku erat-erat dan membalas ciuman buasku. Tangan kiriku menyusup ke dalam blouse-nya, sementara tangan kananku menyusup ke celana dalamnya bagian belakang dan mengusap, meremas lembut belahan pantatnya. Aku menciumi Eksanti dengan buas. Bibir sensualnya yang tipis itu aku lumat habis. Lidahku meliuk-liuk di dalam mulutnya dan disambut dengan kelincahan lidahnya. Lalu mulutku turun ke arah leher jenjangnya, aku menjilati lehernya. Eksanti memejamkan matanya, ia tampak sangat menikmati rangsanganku. Tangannya terus mengusap-usap kejantananku yang masih rapi berada di dalam sarangnya.

Kami berciuman seakan-akan kami sepasang kekasih yang telah lama tidak berjumpa. Menumpahkan segala kerinduan dalam kehangatan sebuah ciuman. Perlahan aku raih pinggang Eksanti dan mendudukkannya dalam pangkuanku di atas tempat tidur. Kini kami semakin dekat, karena Eksanti aku rengkuh tubuhnya dalam pangkuanku. Aku usap lembut rambutnya, sedangkan dia memegang lembut pipiku. Ciuman bibirnya semakin dalam, seakan tidak pernah dia lepaskan. Cukup lama kami berciuman, sesekali terdengar tarikan nafas Eksanti yang terdengar begitu lembut.

Akhirnya aku memberanikan diri untuk mulai menurunkan bibirku ke arah lehernya. “Ugh..”. hanya terdengar lenguhan lembut Eksanti ketika ia mulai merasakan hangatnya bibirku menjelajahi lehernya. Tidak ada perlawanan dari aksi yang aku lakukan. Eksanti justru makin mendongakkan kepalanya, semakin memamerkan lehernya yang putih dan jenjang. Kedua tangannya meremas seprai tempat tidur sebagai tumpuan. Aku pun semakin terhanyut terbawa suasana. Aku perlakukan Eksanti selembut mungkin, menjelajahi milimeter demi milimeter lehernya, mengusap rambutnya dan makin menekankan punggungnya ke arah tubuhku.
“Mas.. ookkhh..”, lenguh Eksanti saat dia menyadari terlepasnya satu per satu kancing kemeja blouse-nya.
Ya.. aku memang melepaskannya untuk melanjutkan cumbuanku kepadanya.

Ke bag 2

This entry was posted in Cerita Sex Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.