Eksanti, Proposal yang Tertunda – 4

Cerita Sex Bergambar dan Terbaik di Kelasnya,
CerSexMek – Cerita Sex Memek | Cerita Sex, Cerita Dewasa, Cerita Ngentot, Cerita Mesum, Terbaru dan Terbaik.

Cewek Bugil Ngentot,  porno_WM
( Selalu Menyajikan Cerita Sex Terbaru dan Foto Memek Terbaik )

“Mau minta tanda tangan lembur, pak!”, suara dan ketukkan Satpam penjaga gedung di pintu depan semakin keras.
Pintu depan memang dikunci dari dalam, namun Satpam itu pasti tahu bahwa masih ada orang yang bekerja di dalam, karena lampu spotlight di meja receptionist masih terang menyala. Tek-tek-tek!, ketukan itu terdengar lagi, tetapi kami diam saja hingga kemudian ketokan itu berhenti sendiri dan Pak Satpam berlalu dari depan pintu utama sambil menggerutu. Mungkin ia berfikir kami tidak akan mendengar ketukannya karena bekerja di dalam ruangan, jauh dari pintu kaca itu. Padahal saat itu posisi kami hanya berjarak kurang lebih 5 meter dari tempatnya berdiri. Hatiku dag dig dug tak keruan mengalami peristiwa itu .

“Eksanti..”, panggilku perlahan sambil berusaha memeluknya, ketika aku yakin Pak Satpam telah beranjak jauh.
“Ssstt.. don’t say anything, Mas, please!”, ia memotong ucapanku sambil menundukkan kepala dan mengibaskan tanganku.
Ia masih nampak gugup.
“Ayo kita segera pulang aja deh”, ajakku lagi masih dengan jantung yang berdegup keras.
“Tapi, Santi mau mandi dulu sebelum pulang, gerah sekali rasanya. Mas mau juga ‘kan?”, ia meminta kepadaku dengan berbisik.
Di lantai itu memang disediakan toilet eksekutif dengan dilengkapi shower, meskipun letaknya berada di luar ruang kantor kami. Jaraknya hanya kira-kira 10 meter dari pintu utama.
“Iyaa.. dech, San”, aku mengangguk setuju membayangkan nikmatnya guyuran air segar dalam sore panas seperti saat ini.

Lalu kami mengemasi pakaian yang sebagian masih berserakan bercampur dengan dokumen kertas di atas lantai karpet dan merapikan diri. Eksanti pun bergegas mengambil kunci toilet eksekutif. Kami berjalan beriringan menuju kesana, sambil mata kami mengawasi keadaan sekeliling khawatir kalau-kalau masih ada orang lain yang tinggal di lantai kantor itu. Ketika kami merasa bahwa suasananya aman, aku membuka kunci pintu dan kami berduapun masuk ke dalamnya. Kami sudah mulai melupakan ‘peristiwa Pak Satpam’ yang agak mendebarkan tadi.

Kemudian Eksanti tanpa banyak bicara menuju ruang shower yang dipagari kaca buram. Pakaian yang dikenakan seadanya tadi ditanggalkannya sambil berjalan, lalu dilempar seenaknya ke penggantungan baju yang terbuat dari nikel, di pojok kamar mandi. Aku tergesa-gesa mengikuti tingkah Eksanti dan menyusul masuk ke ruang shower. Aku terdiam memandang wanita molek ini mengangkangkan kakinya dengan santai, seakan-akan tidak ada orang lain di sekitarnya. Di dalam ruang shower itu, Eksanti lalu membasahi tubuhnya dengan air. Wow! Aku tak berhenti mengagumi tubuh mulus itu. Dengan air di sekujur badannya, tubuh itu tampak lebih menggairahkan lagi. Teringat aku akan patung-patung bidadari telanjang di pinggir kolam di Roma. Seperti itulah tubuh Eksanti, cuma tentu saja lebih indah lagi karena ‘patung’ itu hidup!

“Jangan cuma berdiri di sana, Mas, nanti kamu masuk angin, lho!” goda Eksanti sambil menyerahkan sebotol sabun cair.
“Bantu Santi menyabuni tubuhku, yaa..?”, pintanya manja.
“Dengan senang hati!”, sahutku sambil tersenyum manis.
Aku menuangkan sabun banyak-banyak ke telapak tangan, lalu aku usapkan ke tubuh Eksanti. Wow! Kembali aku terkagum merasakan tubuh yang tidak saja tampak halus, tetapi memang mulus bak pualam. Bersemangat sekali aku menyabuni Eksanti yang tertawa-tawa kecil seperti seorang anak dimandikan bapaknya. Tak berapa lama kemudian, tawa-tawa kecil itu berhenti, diganti dengan gumam. Lalu diganti lagi dengan desahan. Eksanti mematikan air shower, memejamkan mata menikmati pelayanan khususku kembali.

Aku pun menyabuni tubuh Eksanti makin seksama. Tanganku cekatan mengusapkan busa lembut dan wangi ke seluruh tubuh Eksanti. Ketika menyabuni payudaranya, aku berlama-lama mengusap-usap kedua puting susunya, membuat wanita cantik yang molek ini bergelinjang-gelinjang kegelian. Kedua tangannya terangkat, mencekal erat tangkai shower, seakan bergantungan di situ. Posisi ini menyebabkan dua bukit kenyal yang membusung itu bertambah tampil menggairahkan. gemas sekali aku meremas-remasnya, bermain-main dengan busa sabun yang berleleran. Seakan-akan aku adalah seorang peternak yang sedang memerah susu-susu sapi. Kadang-kadang aku tarik-tarik kedua ujung payudara yang semakin menggembung itu, seakan-akan benar ingin mengeluarkan susu.

“Please, jangan terlalu lama, Mas..,” bisik Eksanti tak sabar.
“Touch me down there, Mas..,” desahnya.
Aku tersenyum dan segera menurunkan salah satu tanganku, menyabuni perut Eksanti yang rata dan tambah licin oleh busa sabun. Dengan cepat, tanganku tiba di selangkangan Eksanti yang sudah pula terbuka karena ia berdiri dengan kedua kaki agak terpisah. Aku mengusap-usapkan sabun ke seluruh pangkal paha dan kewanitaan Eksanti yang telah bersih kembali dari cairan-cairan cinta kami tadi. Eksanti menggeliat dan memejamkan mata, mendesah. Aku semakin giat menyabuni bagian yang putih bersih itu, mengusap-usapnya dengan telapak tanganku. Sementara tangan yang satu turun ke bawah, ke bagian belakang. Aku meremas pantat Eksanti yang padat berisi itu, membuat wanita itu menjerit kecil, antara senang dan terkejut.

Kini seluruh kegiatanku terkonsentrasi di bagian bawah. Tangan kiriku menggerayangi bagian depan kewanitaan Eksanti, sementara tangan kanan bermain-main di belakang. Dengan jari-tengah tangan kirinku, aku perlahan-lahan menelusuri bibir kewanitaan Eksanti. Kedua bibir itu seakan-akan merekah terpisah menerima jemariku yang meluncur lancar ke bawah, lalu perlahan naik lagi ke atas. Ke bawah, ke atas, dengan perlahan tapi penuh kepastian.
“Ooow..,” Eksanti mengerang dan menyorongkan pinggulnya ke depan, merapatkan kedua pahanya menjepit tanganku.
Terasa sekali kenikmatan telah menjalari pangkal pahanya, membuat Eksanti ingin segera ditelusupi oleh jari yang nakal itu.

Tangan kananku bergiat di belakang, juga dengan jari tengah yang nakal menelusuri celah di antara dua bukit belakang Eksanti yang seksi. Busa sabun membuat aktivitasku semakin lancar, dan kini ujung jari tengahnya menyentuh bagian luar lubang belakang Eksanti. Pelan-pelan, aku memutar-mutar ujung jarinya di sana, dan Eksanti merasakan geli yang nikmat seperti geli yang terasa di liang kewanitaannya. Ah, kini ada dua kegelian di bawah sana, di depan dan di belakang. Eksanti menggeliat-geliat seakan-akan kebingungan, apakah akan menyorongkan pinggungnya agar kewanitaannya bertambah geli, atau mendorong ke belakang agar belakangnya yang dirangsang. Akhirnya ia melakukan keduanya: menyorong ke depan dan mendorong ke belakang.
“Ooow, enak sekalii.. Mas.., please Mas.. lagii.. lagii..,” desahnya.

Aku menurunkan tubuhku, berlutut di depan Eksanti. Aku lalu mulai menciumi bagian depan kewanitaan Eksanti yang licin dan kini penuh keharuman sabun wangi itu. Eksanti segera mengucurkan sedikit air untuk mengusir busa di sana, sehingga kini kewanitaannya yang mulus itu terpampang jelas di mataku. Oh, indah sekali tampaknya bagian yang sangat sensitif itu. Sekeliling pangkal pahanya putih bersih, dan sangat kontras dengan warna merah muda lipatan bibirnya, serta ditumbuhi bulu-bulu hitam halus yang sangat terawat.

Kedua bibir kewanitaan itu tampak menebal, merekah memperlihatkan daerah yang memerah dan basah oleh air maupun oleh lendir bening. Agak ke atas, dan agak tersembunyi, terlihat tonjolan kecil berwarna kemerahan yang agak berdenyut-denyut. Tonjolan itulah yang pertama aku tuju, aku ciumi dengan lembut, lalu aku jilati dengan ujung lidah.
“Occhh..Mass..,” Eksanti terlonjak seperti disengat setrum, dan otomatis pula kakinya membuka lebih lebar, dan pinggulnya tersorong ke depan.

Pada saat Eksanti mengangkangkan kakinya, tanganku beraksi lagi. Jari telunjukku masuk dengan leluasa ke dalam kewanitaan Eksanti, disusul jari tengahku. Dua jari nakal itu bermain-main di dalam sana, berputar dan menggosok-gosok dinding yang licin dan berdenyut dan memerah itu. Eksanti semakin gelisah menggeliat-geliatkan badannya. Apalagi kemudian aku juga menggelitiki bagian belakangnya. Eksanti bagi terperangkap dalam dua sumber kenikmatan birahi yang membuatnya bergetar sekujur tubuh. Liang kewanitaannya terasa semakin menguak, dan aku kini memasukkan satu jari lagi, sehingga tiga jari ada di dalam sana, keluar-masuk, berputar-putar, mengurut-menggosok.
“Ochh, Mas.. Santi nggak tahann..,” erang Eksanti sambil memegangi bahuku dan melebarkan kangkangannya sehingga ia nyaris terjongkok.

Aku lalu duduk di lantai shower, dan membiarkan Eksanti mengangkangi kepalaku. Dengan posisi ini, aku bisa leluasa menjilati kewanitaan Eksanti dan bermain-main dengan lubang belakangnya. Aku kini memasukkan lidahku ke dalam liang kewanitaan Eksanti yang sudah dibanjiri cairan cintanya. Kini tiga jari dan satu lidah ada di dalam sana, membuat Eksanti merasa kedua lututnya hilang, lemas sekali. Apalagi aku kemudian menyedot dan seakan-akan mengunyah-ngunyah seluruh kewanitaan Eksanti, membuat wanita itu tak tertahankan lagi, merosot ke bawah, jatuh di pangkuanku sambil mendesah-desah dengan mata terpejam.

Dengan sedikit gerakan, Eksanti berhasil menangkap kejantananku yang sudah pula menegang di antara jepitan dua bibir kewanitaannya. Lalu Eksanti mendorong ke bawah, dan liang kewanitaannya seperti sebuah mulut kecil yang kelaparan hendak menelan kejantananku yang kenyal, besar, panjang dan hangat itu. Tetapi, walaupun Eksanti sudah mengangkang selebar-lebarnya, tetap saja diperlukan upaya ekstra untuk memasukkan seluruh kejantananku. Dan Eksanti pun merasakan nikmat luar biasa ketika dinding-dinding kewanitaannya perlahan-lahan menguak dan menerima daging kenyal yang padat dan hangat itu, menggosok keras dan mantap, mengirimkan berjuta-juta kenikmatan ke seluruh tubuhnya.

Baru saja seluruh kejantanan itu melesak, Eksanti sudah merasakan orgasmenya datang menyerbu. Ia terduduk dengan seluruh kejantananku berada di dalam dirinya, begitu besar dan panjang sehingga seakan-akan ujungnya sampai ke leher Eksanti!

“Oh, Mass.. kamu luar biasaa.., aku..,” Eksanti mengerang tertahan dan merasakan orgasmenya menggemuruh di bawah sana.
Ia lalu memutar-mutar pinggulnya, menambah intensitas kenikmatan, sehingga akhirnya ia tak kuasa lagi menahan jerit kecil keluar dari kerongkongannya. Kaki dan pahanya mengejang, menggelepar dan terkapar di lantai shower. Aku mencekal erat pinggang Eksanti, menjaga agar wanita yang sedang kasmaran ini tidak terjerembab di lantai.

Setelah Eksanti agak mereda, aku meraih keran shower dengan tangan kiriku, sehingga sejenak kemudian kami berdua dihujani air segar dari atas. Eksanti tertawa senang, mengangkat mukanya sehingga air membasahi seluruh rambutnya yang hitam sebahu itu. Bagai bercinta di bawah hujan, pikir Eksanti, sambil mulai menggerak-gerakkan pinggulnya lagi. Mula-mula, ia bergerak maju-mundur, sehingga kejantananku yang masih terbenam di dalam tubuh Eksanti kini membentur-bentur dinding depan dan belakang kewanitaanya. Aku merasakan kejantanannya seperti sedang diurut-urut oleh segumpal daging kenyal yang lembut, basah dan hangat. Kontras sekali dengan tubuhnya yang diguyur air dingin. Apalagi kemudian Eksanti memutar-mutar pinggulnya sambil terus menekan ke bawah, membuat aku merasa sedang diperas-peras, dipilin-pilin.

Eksanti kini menaik turunkan tubuhnya sambil bertelektekan di bahuku. Matanya kembali terpejam, dan wajahnya tetap mendongak menerima curahan air shower. Bibirnya terkadang merekah, mendesahkan nafas panas yang mulai memburu lagi. Sungguh cantik wajah Eksanti dalam keadaan basah dan penuh birahi seperti ini. Aku bernafsu sekali menciumi lehernya yang jenjang dan halus dan licin oleh air itu. Sementara kedua tanganku kini kembali meremas-remas payudara Eksanti yang berguncang-guncang seirama gerakan tubuhnya. Permainan cinta kami kini memasuki tahap final, ketika kami berdua mulai merasakan gemuruh birahi meminta jalan untuk menerobos keluar.

Dengan bersemangat, Eksanti terus menaik-turunkan tubuhnya. Ia adalah seorang penunggang wanita, di atas kuda jantan perkasa. Nafasnya mendesah-desah seperti seorang joki sedang memacu kudanya menuju garis finis. Nafasku tak kalah memburunya, juga seperti kuda yang sedang mengerahkan seluruh tenaganya untuk menang di pacuan. Kami berdua berderap menuju puncak birahi, ditingkahi suara air yang mengucur deras dan kecipak bertemunya kejantanan dengan kewanitaan di bawah sana. Ramai sekali, seru sekali, bergelora sekali.

Akhirnya Eksanti tiba di puncak birahi terlebih dahulu. Ia menjerit keras, mengerang panjang, dan menggeliat-geliatkan tubuhnya yang basah oleh air bercampur sedikit keringat. Gerakan turun-naiknya telah berubah menjadi gerakan serampangan; terkadang ke kiri-ke kanan, terkadang maju-mundur, terkadang turun-naik, terkadang semua gerakan itu sekaligus dilakukannya. Eksanti tak lagi memiliki kendali atas tubuhnya yang sedang dilanda kenikmatan puncak. Betapa kuatnya birahi menguasai tubuh manusia!

Aku segera menyusul, ikut mengerang panjang ketika merasakan air bah dari dalam tubuhku menghambur ke luar, membuat kejantananku bagai membesar lima kali lipat, sebelum memancarkan cairan kental panas ke dalam tubuh Eksanti untuk kedua kalinya hari itu. Seluruh tubuhku berguncang-guncang, membuat Eksanti ikut terlonjak-lonjak, sementara kejantananku seperti mengamuk di bawah sana, seperti melompat-lompat menerjang dinding-dinding kewanitaan Eksanti yang sedang meregang.

Kami baru berhenti setelah sekitar 10 menit menggelepar-gelepar seperti itu. Kami tidak peduli lagi, seandainya Pak Satpam kembali melakukan kontrol ruangan dan mendengar desah-erangan kami tadi. Eksanti terkulai letih memeluk tubuhku yang sudah tersandar ke dinding ruang shower dengan nafas terengah-engah. Tubuh kami masih terus dibasahi oleh curah air shower yang sejuk. Eksanti menciumku, mengucapkan terimakasihnya.

Di dalam kamar mandi eksekutif lantai 25 gedung kantor kami, di bawah guyuran air dari shower, kami baru saja bercinta dengan penuh nikmat. Aku menghitung, hari itu Eksanti mengalami enam kali masa orgasme, sedangkan aku mengalami dua kali ejakulasi yang hampir tanpa jeda waktu. Sungguh sesuatu yang belum pernah aku lakukan dan tidak akan aku lupakan seumur-umur. Apalagi bila aku mengingat ekspresi wajahnya, pada saat Eksanti menikmati puncak-puncak masing-masing orgasmenya. Oocchh..

******

Setelah kami mandi dan berbenah diri, kemudian dengan sedikit berjingkat dan rasa was-was kami kembali masuk ke dalam ruang kantor. Lalu kami mengemasi proposal yang siap dikirim pada hari Senin nanti. Pintu kantor dikunci dan kami turun bersama-sama dari lantai 25 gedung itu. Di dalam lift, sekali lagi masih sempat aku melumat lembut bibirnya, dan Eksanti pun membalasnya dengan spontan.
Aku mengecup keningnya seraya berkata, “Terima kasih yaa.. sayang.., Mas sangat menikmatinya..”.
Eksanti menjawab sambil tersenyum, “Sama-sama Mas, Mas sudah lega ‘kan?”.
Dan ting.. pintu lift telah terbuka. Kami berjalan beriringan menuju pintu mobilku untuk mengantarnya pulang. Sungguh hari Sabtu yang tidak bisa aku lupakan..

This entry was posted in Cerita Sex Umum and tagged , , . Bookmark the permalink.